SAMPIT – Kebakaran yang menghanguskan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Parulian Sampit tidak memadamkan semangat jemaat untuk beribadah. Meski bangunan gereja rusak parah dan sejumlah perlengkapan ibadah tak terselamatkan, jemaat tetap berkumpul untuk menjalankan ibadah Minggu di bawah tenda darurat.
Suasana ibadah Minggu 25 Oktober 2026 terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ruangan gereja yang nyaman, kipas angin yang menyejukkan, maupun perlengkapan ibadah yang selama ini digunakan untuk memuji Tuhan.
Sebagai gantinya, jemaat harus beribadah di bawah tenda dengan fasilitas seadanya. Mereka juga harus menghadapi udara Sampit yang masih diselimuti kabut asap.
Gereja yang berlokasi di Jalan Ir Soekarno Lingkar Utara, Sampit, tersebut terbakar pada Sabtu 17 Oktober 2026. Kebakaran itu menghanguskan bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu beserta berbagai fasilitas penunjang kegiatan ibadah.
Dugaan awal menyebutkan kebakaran berkaitan dengan korsleting listrik. Namun, penyebab pasti kejadian tersebut perlu merujuk pada hasil pemeriksaan pihak berwenang.
Bagi Pendeta HKBP Parulian Sampit, Pdt Jhonson R.D. Simaremare, kondisi tersebut menjadi pengalaman yang menyedihkan. Gereja yang sebelumnya menjadi tempat jemaat berkumpul, berdoa, dan mempererat persekutuan kini tidak dapat digunakan seperti sediakala.
“Kalau boleh saya jujur, ibadah ini sangat-sangat menyedihkan di tengah-tengah kondisi gereja yang benar-benar hancur. Kami beribadah di tenda dan juga cuaca yang dipenuhi dengan asap,” tuturnya saat ditemui seusai ibadah.
Di tengah kesedihan itu, Pdt Jhonson tetap berusaha menguatkan jemaat. Ia meyakini akan ada pihak-pihak yang tergerak untuk membantu memulihkan gereja tersebut agar kembali menjadi tempat ibadah yang layak.
“Kami yakin dan percaya Tuhan akan mengetuk hati-hati orang yang baik yang boleh membantu untuk memulihkan kembali gereja kami, Gereja HKBP Parulian Sampit,” ucapnya.
Perlengkapan Ibadah Ikut Hangus
Kebakaran tersebut tidak hanya merusak bangunan utama gereja. Sejumlah perlengkapan yang digunakan untuk menunjang pelayanan dan kegiatan ibadah turut hangus terbakar.
Barang-barang yang tidak terselamatkan di antaranya pakaian pelayanan, organ gereja, perangkat sound system, komputer, laptop, serta berbagai sarana dan prasarana lainnya. Bahkan, kantong persembahan jemaat juga ikut terbakar.
Kehilangan berbagai fasilitas tersebut membuat jemaat harus berupaya memenuhi kebutuhan ibadah dengan perlengkapan seadanya. Sejumlah peralatan terpaksa dipinjam agar kegiatan persekutuan tetap bisa dilaksanakan.
Meski kondisi gereja belum pulih, sekitar 70 persen jemaat tetap hadir dalam ibadah Minggu tersebut.
Pdt Jhonson mengakui jumlah kehadiran itu belum maksimal. Namun, ia memahami kondisi tersebut mengingat jemaat masih menghadapi situasi pascakebakaran, sementara kabut asap juga mengganggu aktivitas masyarakat.
“Kalau ini, saya pikir 70 persen kehadiran jemaat kita. Memang tidak maksimal, tapi kita harus juga maklum karena kondisi asap dan juga ibadah ini pasti memakan waktu,” katanya.
Kondisi tersebut juga berdampak pada pelaksanaan ibadah sekolah minggu bagi anak-anak. Kegiatan yang biasanya menjadi bagian dari pelayanan gereja itu belum dapat berjalan dengan baik seperti sebelum kebakaran.
Pihak distrik gereja disebut telah mengirimkan bantuan masker. Selain itu, sejumlah orang tua juga berinisiatif memakaikan masker kepada anak-anak mereka selama beraktivitas.
“Saya juga bersyukur para orang tua berinisiatif memakaikan masker kepada anak-anak. Ya, ibadah sekolah minggu tidak bisa berjalan dengan baik dulu, semoga tidak mengganggu kesehatan anak-anaklah,” ujarnya.
Butuh Rp725 Juta untuk Pemulihan
Di tengah upaya mempertahankan kegiatan ibadah, kebutuhan untuk memulihkan gereja masih menjadi pekerjaan besar bagi jemaat.
Ketua Pembangunan Gereja HKBP Parulian Sampit, Rintar Sianturi, menjelaskan bahwa pihaknya memperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp460 juta untuk pembangunan fisik sementara beserta material dan upah tukang.
Selain itu, kebutuhan untuk pengadaan perangkat audio dan perlengkapan ibadah diperkirakan mencapai Rp265 juta.
Dengan demikian, total kebutuhan dana yang diperkirakan untuk kedua komponen tersebut mencapai sekitar Rp725 juta.
“Yang ini Rp460 juta untuk fisik dan untuk upah tukangnya, materialnya, untuk audionya itu di angka Rp265 juta, perlengkapan peralatan ibadah, kursinya, mejanya, terus keyboard, terus mixer, semuanya,” jelas Rintar.
Kebutuhan tersebut mencakup pembangunan tempat ibadah sementara dan pengadaan kembali sejumlah perlengkapan yang rusak atau hangus terbakar. Kursi, meja, keyboard, mixer, hingga perangkat audio menjadi bagian dari fasilitas yang perlu dipenuhi agar kegiatan ibadah dapat berlangsung lebih nyaman.
Sembari mengupayakan pemulihan, jemaat telah menerima dukungan berupa peminjaman fasilitas dari Yonif TP 923 untuk digunakan selama 60 hari.
Menurut Rintar, bantuan tersebut meliputi dua unit tenda serbaguna, dua unit tempat tidur, serta personel yang membantu kebutuhan di lokasi.
Bantuan itu menjadi penopang sementara agar jemaat tetap memiliki tempat untuk berkumpul dan melaksanakan ibadah setelah gereja mereka terbakar.
Namun, kebutuhan pemulihan belum sepenuhnya terpenuhi. Jemaat masih berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait, terutama untuk mempercepat penyediaan tempat ibadah yang lebih layak.
Berharap Gereja Kembali Layak Sebelum Natal
Harapan untuk segera memiliki tempat ibadah yang nyaman semakin besar menjelang perayaan Natal pada Desember mendatang.
Bagi jemaat HKBP Parulian Sampit, Natal bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga momentum penting untuk berkumpul dan beribadah bersama. Karena itu, pemulihan gereja menjadi kebutuhan mendesak yang diharapkan dapat segera ditangani.
Rintar berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Sosial, dapat melihat langsung kondisi jemaat pascakebakaran dan mempertimbangkan bantuan sesuai kebutuhan.
“Kami bermohon kepada pemerintah daerah khususnya Dinas Sosial bisa melihat ini. Dan besar harapan kami dibantu dalam waktu segera dan cepat, untuk bisa kami beribadah mendapatkan kenyamanan,” katanya.
Hingga kini, jemaat masih menjalankan ibadah dengan fasilitas terbatas. Mereka juga belum memastikan apakah ibadah pada pekan berikutnya akan tetap dilaksanakan di bawah tenda darurat atau dipindahkan ke tempat lain.
Di tengah kondisi tersebut, jemaat berharap pembangunan tempat ibadah sementara dapat segera direalisasikan sehingga kegiatan keagamaan dapat berlangsung lebih nyaman, terutama saat memasuki rangkaian perayaan Natal.
Kebakaran telah merenggut bangunan dan berbagai perlengkapan yang selama ini digunakan untuk beribadah. Namun, jemaat HKBP Parulian Sampit tetap berusaha menjaga persekutuan mereka.
Kini, di bawah tenda darurat, mereka menanti uluran tangan agar gereja yang terbakar dapat kembali dibangun dan menjadi tempat beribadah yang layak bagi seluruh jemaat.
(Jimmy)











