SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor meninjau lokasi kebakaran yang menghanguskan lima rumah warga dan Masjid Muhajirin di Jalan Yahya Usman, Desa Cempaka Mulia Barat, Kecamatan Cempaga, Senin 26 Oktober 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Halikinnor menyerahkan bantuan sembako untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar para korban yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran yang terjadi pada Minggu 25 Oktober 2026 malam.
Halikinnor datang bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kapolres Kotim, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD).
“Atas nama pemerintah daerah, kami ikut prihatin dan turut berduka atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita, utamanya yang lima buah rumah yang terbakar ini,” kata Halikinnor saat meninjau lokasi kebakaran.
Dia mengatakan, untuk sementara para korban menumpang tinggal di rumah keluarga masing-masing. Karena itu, bantuan sembako diharapkan dapat meringankan beban mereka sembari menunggu penanganan lebih lanjut.
Selain bantuan awal tersebut, Halikinnor juga telah menghubungi perusahaan besar yang beroperasi di wilayah Kecamatan Cempaga untuk berkoordinasi membantu para korban.
“Kita belum tahu berupa apa bantuannya. Secepatnya saya minta nanti. Kalau misalkannya nanti berupa uang tunai atau mungkin donasi,” ujarnya.
Dia berharap dukungan berbagai pihak dapat membantu korban segera membangun tempat tinggal sementara. Sementara itu, pemerintah daerah juga akan mengupayakan bantuan lanjutan melalui program pada tahun anggaran 2027.
“Secepatnya kalau bisa, mereka bisa membangun minimal ya, semacam pendukuhanlah untuk tempat tinggal untuk sementara,” ucapnya.
Halikinnor menjelaskan, bantuan pemerintah daerah harus menyesuaikan mekanisme dan tahun anggaran yang berlaku. Terlebih, saat ini sudah mendekati akhir tahun anggaran sehingga bantuan pembangunan rumah tidak bisa serta-merta direalisasikan.
Selain rumah warga, pemerintah daerah juga akan mengupayakan bantuan untuk pembangunan kembali Masjid Muhajirin yang ikut terbakar. Halikinnor meminta pihak kecamatan segera menyusun laporan dan dokumentasi kondisi bangunan sebagai bahan pengajuan.
“Mudah-mudahan di 2027 bisa kita anggarkan untuk membangunnya,” katanya.
Menurutnya, pembangunan masjid nantinya berpeluang menggunakan konstruksi beton. Namun, pelaksanaannya tetap menyesuaikan kemampuan anggaran pemerintah daerah karena banyak masjid dan rumah ibadah lain yang juga membutuhkan bantuan.
Dia berharap dukungan masyarakat dan investor dapat membantu mempercepat pembangunan kembali masjid tersebut agar bisa digunakan beribadah.
Halikinnor juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap potensi kebakaran, terutama yang bersumber dari penggunaan listrik dan aktivitas di dapur.
Dia mengingatkan warga untuk memeriksa kondisi instalasi listrik, khususnya kabel yang sudah tua atau tidak lagi memenuhi standar. Penggunaan stopkontak secara berlebihan juga perlu dihindari karena berpotensi menyebabkan kabel panas dan memicu korsleting.
Terkait penyebab kebakaran di Cempaka Mulia Barat, Halikinnor menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Ini kemungkinan korsleting listrik atau bagaimana, dalam penyelidikan pihak kepolisian,” ujarnya.
Penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian. Dalam peristiwa tersebut, lima rumah warga dan satu bangunan Masjid Muhajirin terbakar, sementara tidak ada korban jiwa dilaporkan. (nardi)











