Oleh: Maman Wiharja (Wartawan-beritasampit.co.id)
Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia (AKPSI) telah dilaksanakan pada 15-17 Juli 2022. Munas digelar di Hotel Mercure Ancol Jakarta ini diikuti peserta dari seluruh Indonesia ini turut dihadiri Pj. Bupati Kotawaringin Barat (Kobar) Anang Dirjo.
Kegiatan yang dibuka oleh Mendagri Tito Karnavian dan dihadiri Dewan Pembina AKPSI Luhut Binsar Pandjaitan sebagai bagian pendukung dari pemerintah pusat dalam hal penataan perkebunan sawit di Indonesia ini semoga membuktikan bisa membantu keluhan masyarakat khususnya para petani kebun kelapa sawit, yang saat ini nasibnya semakin terpuruk lantaran harga sawit semakin anjlok.
Pengamatan penulis, apakah dengan semakin menurunnnya harga sawit kita akan menguak kembali mengikuti jejak sejarah kelam tentang komiditi cengkeh di zaman Presiden Soeharto?, yang secara perlahan harga cengkeh saat itu turun drastis. Padahal sebelumnya harga cengkeh Indonesia melangit, sampai-sampai ribuan orang yang konon miskin berpura-pura jadi ‘gelandangan’ di kota-kota besar memungut putung rokok cengkeh, karena harganya yang mahal.
Demikin juga dengan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit, apakah harga TBS yang semakin menurun ini kemungkinan adanya permainan, khusus spekulasi dari sejumlah oknum cukong pemodal besar di lingkaran lintas segitiga Bermuda ekonomi Internasional antara cukong Indonesia dan Asing?
Tapi harga komoditi cengkeh tiba-tiba anjlok itu zaman dulu, sekarang harga TBS Sawit semakin anjlok diharapkan jangan sampai lama. Harga TBS yang semakin anjlok mudah-mudahan sejatinya menjadi hikmah buat Pemerintah Pusat.
Hikmahnya, seperti yang belum lama ini dalam acara Munas AKPSI 2022 telah tercurah berbagai keluhan dari masyarakat khususnya para petani kebun kelapa sawit yang meminta keadilan untuk bisa bersama-sama berdampingan mengelola kebun kelapa sawit bersama Perusahaan Besar Swasta (PBS) yang ada diseluruh Indonesia.
Pada intinya, para petani sawit oleh pemerintah pusat jangan ‘dianaktirikan’. Karena dalam Munas AKPSI 2022, tersebut tentunya berbagai isu turut pula di bahas, mulai dari rendahnya harga TBS Sawit yang sekarang memporakpandakan perekonomian para petani sawit, kemudian tentang regulasi pemerintah, sampai praktek monopoli sawit, yang merugikan petani plasma dan petani sawit non plasma.
Dan memang benar, penulis melihat sendiri melalui pengalaman peliputan, sejak 1995, dimana saat itu bermunculan sejumlah investor perkebunan kelapa sawit ke Kabupaten Kobar. Seiring dengan bermunculannya sejumlah investor, sampai sekarang pun di tahun 2022 masih diwarnai dengan aksi demo.
Dan nampaknya Pemkab Kobar sudah lelah mengurus dan menjembatani berbagai masalah tentang kebun sawit, lantaran sampai sekarang masih saja ada permasalahan yang masih belum tuntas, misalnya sengketa lahan antara milik masyarakat yang konon dicaplok PBS Sawit.
Melihat fenomena permasalahan sawit, seperti disampaikan Pj. Bupati Kobar Anang Dirjo, dari hasil Munas AKPSI diharapkan permasalahan keluhan masyarakan khususnya petani sawit bisa segera terselesaikan. SEMOGA.(*)











