JAKARTA– Wakil Ketua Fraksi Golkar Bidang Industri dan Pembangunan (Inbang) DPR RI Mukhtarudin mendukung langkah Menteri Perindustrian Agus Gumiwang yang menginisiasi pembentukan kelembagaan Kakao-Kelapa untuk menjamin ketersediaan bahan baku industri di tanah air.
“Saya kira pengembangan kakao-kelapa ini juga dapat meningkatkan daya saing,” tutur Mukhtarudin, Senin 15 Juli 2024.
Politisi Golkar Dapil Kalimantan Tengah ini mengaku pengembangan kakao memang tidak terlepas dari perannya sebagai salah satu komoditas perkebunan yang menjadi fokus pengembangan untuk tujuan
ekspor.
Anggota Komisi VII DPR RI ini bilang pengembangan kakao merupakan upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu tanaman ekspor dalam rangka mempertahankan pangsa pasar internasional.
“Sesuai dengan tujuan pemerintah yang menjadikan kakao sebagai komoditas ekspor andalan,” beber Mukhtarudin.
Peraih penghargaan Tokoh peduli Daerah Terbaik Teropong Parlemen Award 2023 ini pun berharap inisiasi adanya kelembagaan kakao dan kelapa oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang tersebut tentu akan memberikan dampak positif pada petani dan industri dalam negeri.
“Seperti peningkatan produktivitas melalui intensifikasi dan peremajaan lahan, peningkatan hasil olahan, serta jaminan kepastian penyerapan panen,” pungkas Mukhtarudin.
Diketahui, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pembentukan kelembagaan kakao dan kelapa untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian (economic value added/EVA) yang didapat dari sektor tersebut.
Presiden Joko Widodo pun telah melaksanakan rapat terbatas mengenai Badan Pengelola Dana Kakao dan Kelapa yang dari hasil ratas itu memutuskan, pengelolaan kedua sektor dilimpahkan kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dengan membentuk dua kedeputian baru, yaitu Deputi Kakao dan Deputi Kelapa.
“BPDPKS sudah mempunyai dana besar yang bisa dipakai untuk sektor kakao dan kelapa sehingga bisa berjalan segera,” kata Menperin Agus.
Menperin menyampaikan selama periode 2015-2023, terjadi penurunan produksi kakao Indonesia sebesar 8,3 persen per tahun dan terjadi peningkatan impor dari 239.377 ton menjadi 276.683 ton.i
Agus menilai pertumbuhan industri pengolahan kakao belum dibarengi dengan ketersediaan bahan baku yang menyebabkan sembilan dari 20 perusahaan berhenti beroperasi.
“Karena saat ini industri di sektor kakao mengimpor 62 persen bahan baku,” kata Agus.
Indonesia pernah menduduki peringkat ke-3 negara penghasil biji kakao hingga 2015, namun saat ini berada pada peringkat ke-7.
Dari sisi industri, pada 2023, Indonesia sejauh ini tercatat menjadi salah satu produsen dan pengekspor ke-4 produk olahan kakao di dunia.
Namun, Menperin mengku hilirisasi sektor ini di Indonesia masih terbatas, karena pemanfaatan bahan baku kelapa belum maksimal. Hal ini mengakibatkan utilisasi industri pengolahan kelapa masih berada di angka 55 persen.
“Indonesia harus memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan global, sehingga masih terdapat ruang peningkatan hilirisasi kelapa yang cukup masif,” pungkas Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita.
(adista)










