SAMPIT – Dalam kurun waktu lima bulan pertama tahun 2025, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diguncang empat kasus serangan buaya terhadap manusia. Insiden tersebut tersebar di sejumlah wilayah dan menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Mentaya dan anak-anak sungainya.
Serangan pertama terjadi pada Senin 13 Januari 2025, di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit. Dua warga bernama M Kipli dan Sari menjadi korban saat beraktivitas di tepi sungai. Buaya sepanjang sekitar 4 meter muncul dan menyerang mereka, menyebabkan luka serius akibat gigitan. Keduanya selamat setelah mendapat pertolongan warga.
Beberapa bulan kemudian, pada Jumat 4 April 2025, serangan kembali terjadi di Desa Hanaut, Kecamatan Pulau Hanaut. Sani, pria berusia sekitar 35 tahun asal Desa Babaung, diserang buaya saat mandi di Sungai Mentaya. Nahas, Sani ditemukan meninggal dunia setelah pencarian dilakukan oleh tim gabungan.
Kasus terbaru terjadi pada Sabtu malam 3 Mei 2025, di Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Seorang warga bernama Samsul A, diserang buaya saat hendak mengambil wudhu menjelang salat Isya.
Serangan terjadi tepat di bawah titian tangga tempat biasa warga mengambil air. Beruntung, istrinya yang mendengar teriakan langsung memberikan bantuan hingga warga datang menolong. Korban mengalami luka serius di tangan dan mendapat 15 jahitan setelah dirawat di puskesmas.
“Kami minta masyarakat ekstra hati-hati, terutama saat beraktivitas di tepi sungai pada pagi dan malam hari. Waktu-waktu itu merupakan jam aktif buaya,” kata Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, Selasa 6 Mei 2025.
Ia menambahkan bahwa Sungai Mentaya dan anak-anak sungainya kini dikategorikan sebagai zona rawan konflik satwa, khususnya buaya.
BKSDA juga mulai meningkatkan patroli serta sosialisasi di desa–desa rawan, termasuk mengimbau agar warga tidak lagi menggunakan sungai sebagai tempat mandi, mencuci, dan buang air.
“Langkah pencegahan harus menjadi budaya bersama. Jangan sampai kita lengah, karena buaya adalah predator yang sangat teritorial,” tegasnya.
Dari empat kejadian yang tercatat sejak Januari 2025, satu korban dilaporkan meninggal dunia, sementara tiga lainnya mengalami luka-luka. Pemerintah desa pun diminta segera menyiapkan alternatif lokasi MCK yang lebih aman guna mencegah korban berikutnya. (nardi)












