PALANGKA RAYA – Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya resmi bergulir sejak 9 Juni 2025. Namun pelaksanaan kompetisi sepak bola tingkat kota tersebut kembali terkendala persoalan klasik, yakni keterbatasan fasilitas stadion yang dikelola oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya.
Ketua Panitia Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya, Muhammad Misbah, menjelaskan bahwa juara dari liga ini akan mewakili Kota Palangka Raya di kompetisi tingkat provinsi.
“Sebenarnya juara di liga Askot akan mewakili kota di Liga 4 Regional Kalteng, namun pelaksanaan di kota terlambat,” ujar Misbah, Rabu 11 Juni 2025.
Meski digelar pada 2025, Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya sejatinya merupakan agenda kegiatan tahun 2024. Akibat keterlambatan pelaksanaan, tim pemenang dari liga ini sempat kehilangan jenjang lanjutannya karena Liga 4 lebih dulu dilaksanakan.
Namun, Misbah memastikan bahwa juara Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya nantinya tetap akan mewakili Kota Palangka Raya di Liga 4 Regional Kalimantan Tengah yang direncanakan berlangsung Oktober mendatang.
Dalam pelaksanaannya, Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya hanya membolehkan setiap tim mendaftarkan lima pemain senior. Dari jumlah tersebut, hanya dua pemain senior yang boleh diturunkan dalam satu pertandingan. Sementara sisanya merupakan pemain usia muda.
“Jadi mayoritas U-17 sampai usia 30,” jelasnya.
Misbah menambahkan, Liga 1 Askot PSSI Palangka Raya merupakan kegiatan rutin tahunan yang menjadi ajang pembinaan pemain muda berbakat di Palangka Raya.
Namun, pelaksanaan tahun ini tidak berjalan mulus. Salah satu kendala utamanya adalah ketiadaan stadion yang dikelola oleh Pemkot Palangka Raya.
“Kalau problem pasti ada. Pertama secara umum, Kota Palangka Raya tidak memiliki lapangan, itu kendala kami,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Stadion Tuah Pahoe yang selama ini digunakan berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini membuat panitia harus menyesuaikan jadwal dengan agenda kegiatan provinsi.
“Jadi kenapa kegiatan ini mundur, karena lapangan yang standar terbatas. Kalau di Stadion Tuah Pahoe hak Pemprov. Jadi kita terbentur kegiatan provinsi,” tegas Misbah.
Selain masalah fasilitas, pendanaan juga menjadi persoalan lain yang dihadapi panitia.
“Untuk masalah pendanaan, jelas dana kami sangat terbatas sekali untuk kegiatan ini. Wajar saja kegiatan kita masih banyak kekurangan,” ujarnya.
Misbah berharap, ke depan Pemerintah Kota Palangka Raya dapat membangun stadion sendiri agar pelaksanaan Liga 1 Askot PSSI tidak lagi berbenturan dengan agenda provinsi.
“Itu harapan kami. Mudah-mudahan bisa kami sampaikan juga kepada Bapak Wali Kota Palangka Raya agar ke depannya bisa memiliki stadion sendiri atau lapangan sendiri supaya kita tidak bergantung dan berbenturan dengan kegiatan provinsi,” ujarnya.
Dengan memiliki stadion sendiri, kata Misbah, pelaksanaan kegiatan sepak bola tingkat kota bisa berjalan lebih leluasa.
Ia juga mengingatkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung perkembangan sepak bola di daerah, sebagaimana yang disampaikan Ketua Umum PSSI Erick Thohir terkait peran pemda tingkat I dan II dalam mendukung kegiatan sepak bola di wilayahnya masing-masing.
(Syauqi)












