Dibombardir Iran, Ini Strategi Israel Tutupi Jumlah Korban

Reruntuhan Gedung di Israel. Dok: Istimewa

Oleh: Adista Pattisahusiwa

Israel diklaim menggunakan beberapa strategi untuk mengelola atau menutupi data jumlah korban dalam konflik dengan Iran di hari ke-11 atau memasuki pekan kedua sejak 13 Juni 2025.

Zionis menerapkan sensor militer yang ketat melalui badan seperti Military Censorship yang mengawasi pemberitaan terkait kerugian militer saat ini.

Jumlah korban, terutama tentara, sering kali tidak diumumkan secara lengkap atau dirilis secara bertahap untuk menghindari dampak psikologis pada publik dan menjaga moral masyarakat.

Bukan hanya itu, Israel juga sering kali menggunakan media untuk membentuk publik, baik domestik maupun , dengan merilis informasi secara selektif.

Misalnya, korban tewas akibat serangan rudal Iran, mungkin dilaporkan minim atau tidak dirinci untuk menunjukkan bahwa serangan tersebut tidak efektif

Di tengah gemuruh konflik yang terus membara di Timur Tengah, Israel telah menunjukkan keahlian luar biasa dalam mengelola narasi, khususnya soal jumlah korban saat ini.

Bukan sekadar soal menyembunyikan angka, tetapi bagaimana negara ini memainkan kartu informasi untuk menjaga supremasi psikologis dan baik di dalam negeri maupun di panggung global.

Bayangkan sebuah permainan catur di mana setiap langkah dihitung dengan cermat. Israel, melalui sensor militer yang ketat, bertindak seperti grandmaster yang menahan informasi tentang bidak yang jatuh.

Jumlah korban tewas atau terluka, terutama dari kalangan militer, dirilis dengan hemat, sering kali hanya secukupnya untuk menjaga kepercayaan publik tanpa memicu kepanikan.

Ini bukan sekadar strategi perang, tapi seni propaganda modern. Artinya, dengan menunda atau meminimalkan laporan kerugian, Israel menciptakan ilusi bahwa Iran idak mampu memberikan pukulan signifikan. Dampaknya? Moral domestik tetap terjaga, dan citra “tak terkalahkan” terus terpelihara.

baca juga ...  Golkar Senayan Tegaskan UU TNI Baru Tidak Akan Mengembalikan Dwifungsi ABRI

Namun, era media sosial, di mana kebenaran sering kali tercecer di antara tweet dan postingan X, strategi ini tidak luput dari sorotan.

Banyak yang menduga Israel sengaja meremehkan angka korban, mungkin hingga tiga kali lipat dari yang diumumkan, untuk menutupi kerentanan.

Tuduhan ini diperkuat oleh cerita-cerita dari lapangan, jurnalis yang ditekan, laporan independen yang sulit diverifikasi, dan narasi resmi yang selalu menyoroti kerugian musuh sembari mengaburkan kerugian sendiri.

Taktik ini, meski cerdik, seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, Israel berhasil mengendalikan persepsi global, di sisi lain, hal ini memicu spekulasi dan ketidakpercayaan, terutama di kalangan netizen yang haus akan transparansi.

Yang menarik, strategi ini bukan hanya soal menyembunyikan angka, tetapi juga membentuk emosi kolektif.

Dengan fokus pada narasi “musuh yang kalah”, Israel mengalihkan perhatian dari duka dalam negeri ke kebencian terhadap lawan, psikologi massa yang dimainkan dengan apik, di mana angka korban bukan lagi sekadar statistik, melainkan alat untuk memenangkan hati dan pikiran.

Namun di dunia yang semakin terhubung, kebenaran, meski samar, selalu menemukan celah untuk muncul.

Mungkin, tantangan terbesar Israel bukan lagi soal menghitung korban, tetapi bagaimana tetap relevan di tengah sorotan dunia yang tak pernah padam.

Seperti dalam catur, langkah yang salah bisa mengubah permainan. Dan di sini, setiap angka yang disembunyikan adalah sesuatu yang penuh risiko. (***)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!