SAMPIT – Kekecewaan masyarakat terhadap Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin meluas, terutama terkait infrastruktur jalan dan jembatan yang tak kunjung diperbaiki. Sejumlah warganet menyampaikan keluhan mereka melalui media sosial, menyindir janji politik yang hingga kini tak terealisasi.
Salah satunya disampaikan akun Facebook Tibon Dauth berkomentar tentang keluhan soal jembatan di Jalan Desa Rantau Tampang menuju Tumbang Boloi. Ia menyebut perbaikan jembatan itu dilakukan secara swadaya oleh warga setempat karena tidak kunjung disentuh oleh pemerintah.
“Ini nah, jembatan di jalan desa Rantau Tampang menuju Tbg Bokoi, kami perbaiki dgn gotong royong. Dari waktu kampanye pilkada tahun 2020 Halikin bajanji maaspal jalan sampai ke Bokoi, sampai hari ini jgnkan diaspal, dilatrit aja kada pernah oleh pemkab kotim, makanya koler am minta bantuan apa2 dari pemkab,” tulisnya, diakses pada Jumat 18 Juli 2025.
Komentar terkait keluhan jembatan yang rusak di Kotim mendapat beragam tanggapan warganet lain yang menilai Pemkab Kotim hanya memberi harapan palsu. Bahkan, ada yang menyindir agar warga jangan terlalu berharap jika tidak ada kepentingan politik.
Kritik serupa datang dari akun Facebook, yang menyoroti kondisi jembatan rusak di Desa Keruing, Kecamatan Cempaga Hulu. Menurutnya, meski sudah sering diukur oleh dinas terkait, pembangunan jembatan tak kunjung dimulai.
“Dapat kiriman video lagi jembatan rusak, kali ini di Desa Keruing, Kecamatan Cempaga Hulu. Sudah beberapa kali dinas terkait turun mengukurnya tapi belum juga dibangun-bangun. Menunggu jembatannya rusak parah atau menunggu ada korban? Padahal ini objek vital masyarakat,” tulis akun tersebut.
Kedua keluhan ini menambah panjang deretan kritik publik atas minimnya perbaikan infrastruktur desa di Kotim. Warga berharap Pemkab tidak tinggal diam dan segera menepati janji pembangunan, terutama yang menyangkut akses vital masyarakat.
(Nardi)












