SAMPIT – Banjir yang terjadi usai hujan deras di Kota Sampit kembali merendam sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Dari data yang dihimpun, terdapat sejumlah titik yang menjadi lokasi genangan terparah dan berulang setiap kali hujan dengan intensitas tinggi turun.
Di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, genangan terparah dilaporkan terjadi di Jalan Sampurna, Jalan Jeruk 1, Jalan Pelita, Jalan Suprapto Selatan, Jalan Anggur 3, Jalan Pinang 2, Jalan Caman Barat, Jalan Tatar, dan Jalan Rangkas 4. Ketinggian air di sejumlah titik ini berkisar antara 10 hingga 25 sentimeter, dengan panjang genangan mencapai puluhan meter.
Sementara itu, di Kecamatan Baamang, titik banjir terparah berada di Jalan Kenan Sandan, Jalan Hasan Mansur, Jalan Walter Condrad, Jalan Gunung Kelud, serta Jalan Cristopel Mihing. Kondisi serupa juga terjadi di beberapa ruas jalan utama lainnya seperti Jalan Suprapto, Jalan Pelita, Jalan Ahmad Yani, Jalan HM Arsyad, Jalan Kopi, dan Jalan Panjaitan.
Selain merendam badan jalan, banjir juga dilaporkan masuk ke kawasan permukiman warga di beberapa titik sekitar jalan tersebut, terutama di wilayah rendah dan memiliki sistem drainase yang kurang optimal. Warga terpaksa mengamankan barang-barang ke tempat lebih tinggi untuk menghindari kerusakan.
Ketua Fraksi PAN DPRD Kotim, Dadang, menilai banjir yang terjadi saat ini merupakan persoalan lama yang belum terselesaikan secara maksimal hingga kini.
“Banjir seperti ini bukan hal baru. Sejak dulu kondisinya seperti ini terus. Artinya penanganannya belum maksimal,” tegasnya, Selasa 5 Mei 2026.
Ia mendorong pemerintah daerah agar segera menyusun perencanaan yang komprehensif dalam penataan drainase, tidak hanya di jalan protokol tetapi juga hingga ke kawasan permukiman warga.
“Kita berharap ke depan, khususnya di 2027, ada grand design penataan drainase kota yang menyeluruh supaya banjir tidak terus berulang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyampaikan bahwa banjir dipicu oleh tingginya curah hujan dalam waktu singkat. Berdasarkan data BMKG H. Asan Sampit, curah hujan dalam tiga jam mencapai 65,7 mm.
“Curah hujan cukup tinggi dalam waktu singkat, sehingga menyebabkan genangan di sejumlah titik,” jelasnya.
Ia menambahkan, selain faktor hujan, kondisi drainase yang belum optimal juga menjadi penyebab utama terjadinya genangan. BPBD bersama tim telah melakukan pemantauan, memberikan imbauan kepada masyarakat, serta membantu pengaturan lalu lintas di lokasi terdampak.
“Sebagian wilayah sudah mulai surut, namun masih ada genangan di beberapa ruas seperti Jalan Pelita,” ungkapnya.
Warga berharap adanya penanganan serius dari pemerintah daerah, khususnya dalam normalisasi dan penataan sistem drainase secara menyeluruh, agar banjir yang terus berulang setiap tahun ini dapat diminimalisir. (Nardi)












