Harga Telur di Kotim Turun Rp50 Ribu per Ikat, Peternak Sampaikan Keluhan ke Komisi II DPRD

IST/BERITASAMPIT - Para peternak ayam petelur di Kotim menyampaikan keluhan terkait turunnya harga telur dan tingginya biaya pakan ke Komisi II DPRD Kotim, Selasa 26 Mei 2026.

SAMPIT – Di tengah kenaikan berbagai kebutuhan pokok, harga telur ayam ras di Kabupaten Timur (Kotim) justru mengalami penurunan. Kondisi tersebut dikeluhkan para peternak karena biaya produksi, terutama pakan, masih tergolong tinggi.

Para peternak ayam petelur mendatangi Komisi II DPRD Kotim untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi Selasa 26 Mei 2026.

“Kunjungan ke Komisi II ini kami lakukan untuk menyampaikan keluh kesah peternak ayam petelur,” ujar Ady Candra salah satu peternak ayam di Kotim.

Ia menyebutkan harga pakan ayam mengalami lonjakan yang signifikan, sehingga biaya operasional meningkat.

Selain itu yang menjadi keluhan adanya disitbutor besar yang mendatangkan telur dari luar daerah yang menjual dengan harga di bawah perhitungan peternak lokal.

Ia menegaskan kedatangan peternak ke DPRD bukan untuk kepentingan pihak tertentu, melainkan untuk kepentingan bersama mencari solusi bersama agar tercipta keseimbangan antara kepentingan peternak dan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, peternak berharap Komisi II DPRD Kotim dapat memanggil berbagai pihak terkait, mulai dari distributor, peternak hingga instansi yang berwenang untuk duduk bersama membahas kondisi pasar telur saat ini.

“Yang kami perjuangkan adalah kepentingan bersama agar ada kestabilan harga telur. Masyarakat tidak terlalu berat membeli telur, tetapi peternak juga tidak merugi akibat tingginya harga pakan,” tegasnya.

Menurut Ady, stabilitas harga menjadi hal penting bagi keberlangsungan usaha peternakan ayam petelur di Kotim. Tanpa adanya keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual, peternak dikhawatirkan akan semakin kesulitan mempertahankan usahanya di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.

Sebelumnnya diberitakan bahwa harga telur saat ini mengalami penurunan sekitar Rp50 ribu per ikat. Jika sebelumnya harga satu ikat mencapai sekitar Rp340 ribu, kini turun menjadi sekitar Rp290 ribu.

“Memang turun sekitar Rp50 ribu per ikat. Dari sekitar Rp340 ribu menjadi Rp290 ribu,” kata Ady Candra.

Satu ikat telur diketahui berisi enam sap atau sekitar 180 butir telur. Dengan penurunan Rp50 ribu per ikat tersebut, harga telur turun sekitar Rp278 per butir.

Menurut Ady, kondisi tersebut membuat peternak semakin tertekan karena harga pakan ayam mengalami lonjakan signifikan, sementara harga jual telur terus mengalami penurunan. Selain itu, peternak lokal juga menghadapi persaingan dengan pasokan telur yang didatangkan dari luar daerah. (Nardi)


baca juga ...  Cetak Generasi Cerdas, Ditpolairud Polda Kalteng Gelorakan Minat Baca Lewat Perpustakaan Terapung
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!