BI Wanti-wanti Inflasi Kalteng Naik Lagi pada Juni dan Juli

IST/BERITASAMPIT - ilustrasi.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) (Kalteng) memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah guna mengantisipasi potensi kenaikan inflasi pada Juni hingga Juli 2026.

Kepala Kantor Perwakilan BI Kalteng, Yuliansah Andrian, mengatakan terdapat sejumlah faktor yang berpotensi mendorong inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik global yang dapat memengaruhi harga energi.

Hal itu disampaikannya dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah dan Stabilisasi Pasokan serta Harga Pangan di Ruang Rapat Bajakah Utama, Kantor Gubernur Kalteng, Kamis, 4 Juni 2026.

Selain itu, potensi El Nino, tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa libur sekolah juga dinilai berisiko menambah tekanan inflasi di Kalteng.

“Kita perlu mengantisipasi risiko inflasi ke depan karena berdasarkan pola historis, setelah periode deflasi biasanya akan kembali terjadi tekanan inflasi. Apalagi saat ini terdapat sejumlah faktor eksternal dan struktural yang perlu mendapat perhatian bersama,” kata Yuliansah.

Untuk menjaga stabilitas harga dalam jangka pendek, BI mendorong pelaksanaan pasar penyeimbang, gerakan pasar murah, serta penguatan distribusi barang dan jasa.

Sementara dalam jangka panjang, BI menilai perlu adanya peningkatan produksi pangan, penguatan kerja sama perdagangan antardaerah, optimalisasi rantai pasok, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

“Kami berharap langkah-langkah pengendalian inflasi dapat dilakukan secara bersama-sama, baik melalui upaya jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga stabilitas harga dan ketahanan pangan di Kalteng dapat terus terjaga,” ujarnya.

Yuliansah juga menyoroti inflasi yang terjadi pada Mei 2026. Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dari pola historis yang biasanya menunjukkan penurunan harga setelah Hari Raya Idulfitri.

Ia menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi di Kalteng karena berdampak pada meningkatnya biaya distribusi dan harga sejumlah komoditas pangan strategis.

“Kalau melihat pola historis, seharusnya bulan Mei setelah Idulfitri terjadi penurunan harga atau deflasi. Namun tahun ini berbeda karena adanya kenaikan harga BBM yang secara tidak langsung memengaruhi harga komoditas pangan strategis seperti beras, ikan, dan komoditas lainnya,” katanya.

Berdasarkan data BPS Kalteng, inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,34 persen secara bulanan dan 4,56 persen secara tahunan. Angka tersebut menempatkan Kalteng sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi ketiga di Indonesia.

(Sya'ban)

baca juga ...  Ribuan Pengidap Kanker, Tapi Radioterapi Sepi karena Pasien Datang Terlambat
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!