PALANGKA RAYA – Direktur RSJ Kalawa Atei, Seniriaty, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mengaitkan tindakan kekerasan dengan penderita skizofrenia.
Menurutnya, yang perlu diwaspadai justru pasien yang tidak menjalani pengobatan secara rutin dan berkelanjutan.
Ia menyampaikan hal tersebut menyusul maraknya anggapan bahwa orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), khususnya penderita skizofrenia, identik dengan perilaku agresif atau kekerasan.
“Perilaku kekerasan lebih banyak dilakukan oleh orang yang bukan skizofrenia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin, 8 Juni 2026.
Menurut Seniriaty, penderita skizofrenia yang menjalani pengobatan dengan baik umumnya dapat hidup lebih stabil dan berfungsi di tengah masyarakat.
Sebaliknya, penghentian pengobatan berisiko memicu kekambuhan yang dapat memengaruhi kondisi kejiwaan pasien.
Karena itu, ia mengajak keluarga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa untuk memastikan pengobatan dilakukan secara berkelanjutan dan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
“Ayo bawa orang dengan skizofrenia berobat berkelanjutan ke RS Kalawa Atei agar stabil, sehat, dan dapat berfungsi baik,” katanya.
Sementara itu, Psikolog sekaligus Dosen Psikologi IAKN Palangka Raya, Jefry Supardi, menjelaskan bahwa perilaku agresif pada orang dengan gangguan jiwa dapat dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya halusinasi atau gangguan persepsi.
“Kalau memang mengalami gangguan jiwa, penyebabnya bisa bermacam-macam. Misalnya mengalami halusinasi, mendengar suara-suara tertentu, atau kondisi lainnya yang memengaruhi perilaku,” ujarnya.
Jefry juga menegaskan bahwa pasien yang telah keluar dari rumah sakit jiwa belum tentu sepenuhnya sembuh dari gangguan yang dialaminya.
Menurutnya, pasien biasanya diperbolehkan pulang setelah dinilai mampu menjalani aktivitas sehari-hari dan berinteraksi kembali dengan lingkungan sosialnya.
“Dia sudah keluar dari RSJ bukan berarti gangguan jiwanya sudah hilang. Biasanya pasien yang dipulangkan dianggap sudah mampu bersosialisasi atau hidup lebih mandiri di tengah masyarakat,” jelasnya.
Meski demikian, pasien tetap memerlukan pengawasan dan pengobatan berkelanjutan agar kondisi kejiwaannya tetap stabil.
“Tapi bukan berarti sudah tidak ada gangguan. Biasanya mereka dibekali obat dari RSJ yang harus diminum secara rutin. Bisa saja kondisinya kambuh apabila pengobatan tidak dijalankan sebagaimana mestinya,” pungkasnya.
(Sya'ban)












