SAMPIT – Mulai maraknya kasus penipuan berkedok penjualan beras murah yang ternyata berisi pasir mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Masyarakat diminta lebih waspada dan tidak mudah tergiur dengan tawaran harga murah dari penjual yang tidak dikenal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kotim Muslih mengimbau warga agar membeli kebutuhan pokok di toko resmi serta memastikan kondisi barang sebelum melakukan transaksi.
“Lebih baik datang ke toko resmi, lihat barangnya dan periksa langsung sebelum membeli. Jangan mudah tergiur harga murah dari orang yang tidak dikenal atau barang yang tidak jelas asal-usulnya,” kata Muslih, Selasa 9 Juni 2026.
Dari berita yang beredar menunjukkan sudah cukup banyak warga yang menjadi korban. Dari berbagai keterangan, pelaku diduga merupakan orang yang sama karena memiliki ciri-ciri fisik dan kendaraan yang serupa.
Muslih mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti informasi tersebut. Namun, korban juga diharapkan segera melapor kepada pihak kepolisian agar kasus tersebut dapat diproses lebih lanjut.
“Kami akan mencoba menindaklanjuti informasi ini. Tetapi korban juga harus melapor ke polisi agar dapat ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum,” ujarnya.
Sebelumnya, aksi penipuan dengan modus menjual beras yang ternyata berisi pasir kembali terjadi di Kecamatan Baamang. Korban terbaru adalah Jamilah, warga Jalan Usman Harun II, Gang Gudang Kuning, Kelurahan Baamang Hilir.
Penjual nasi kuning dan nasi sop tersebut mengalami kerugian setelah membeli 30 kilogram beras seharga Rp420 ribu pada Minggu 7 Juni 2026. Setelah karung dibuka, bagian bawahnya ternyata berisi pasir.
Jamilah bukan satu-satunya korban, beberapa warga lain di sekitar tempat tinggalnya juga mengalami kejadian serupa dalam dua bulan terakhir.
“Orang di depan Puskesmas Baamang I juga kena. Beli 10 kilogram, ternyata isinya pasir,” ungkapnya.
Selain beras, pelaku juga disebut menggunakan modus lain dengan menawarkan barang murah. Salah satunya bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite.
Menurut informasi yang diterima Jamilah, seorang warga hampir menjadi korban setelah ditawari Pertalite dengan harga murah. Namun saat diperiksa, isi wadah tersebut ternyata bercampur air sehingga transaksi batal dilakukan dan pelaku langsung melarikan diri.
Modus serupa juga ditemukan pada penjualan minyak goreng murah. Setelah diperiksa, minyak tersebut ternyata telah dicampur dengan air.
Jamilah berharap pelaku segera ditemukan agar masyarakat tidak terus merasa resah. Ia mengaku kejadian yang dialaminya menjadi pelajaran agar lebih berhati-hati terhadap tawaran barang murah dari orang yang baru dikenal.
Kasus serupa juga dialami sejumlah warga lainnya di Kecamatan Baamang maupun Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Ningsih, warga Jalan Kenan Sandan, mengungkapkan ibunya menjadi korban setelah membeli 31 kilogram beras dengan harga Rp10 ribu per kilogram.
“Ibu saya juga kena tipu. Pelakunya laki-laki naik motor matic. Dia datang menawarkan beras, meminta karung, lalu pergi mengambil beras dan mengantarkannya. Setelah dibuka, ternyata hanya bagian atas yang berisi beras, sedangkan di bawahnya berisi pasir,” katanya.
Pengakuan serupa datang dari Elly Yanti yang menyebut bibinya, seorang pedagang sayur di kawasan Jalan Sari Gading, pernah mengalami kejadian yang sama.
Sementara itu, Gusti Arifin mengatakan orang tuanya mengalami kerugian Rp100 ribu setelah membeli satu karung beras 10 kilogram dari seorang pria yang datang menggunakan sepeda motor Beat berwarna biru putih.
“Pelakunya laki-laki membawa motor Beat warna biru putih. Saat mengantar beras motornya tidak dimatikan. Setelah uang diberikan, dia langsung pergi. Ketika dibuka, bagian bawah karung ternyata berisi pasir,” ujarnya.
Di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, seorang warga bernama Sri juga menyebut tetangganya yang berjualan di kawasan Jalan H Imran menjadi korban dengan modus yang sama. Bahkan, aksi pelaku sempat terekam kamera CCTV. Namun korban memilih tidak memperpanjang persoalan tersebut dan mengikhlaskan kerugian yang dialami. (Nardi)












