SAMPIT – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit membuka lowongan untuk dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi atau rehabilitasi medik. Kebutuhan tenaga dokter pada bidang tersebut dinilai cukup mendesak mengingat tingginya jumlah pasien yang membutuhkan layanan rehabilitasi.
Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Yulia Nofiany, mengungkapkan bahwa dokter spesialis rehabilitasi medik masih tergolong langka di Indonesia. Kondisi itu juga dirasakan RSUD dr Murjani yang hingga kini belum memiliki dokter spesialis rehabilitasi medik tetap.
“Saat ini kami hanya dibantu satu dokter, yaitu dr Atet Kurniadi. Beliau juga menjabat sebagai Direktur RS Hanau sehingga waktunya harus terbagi di dua rumah sakit,” kata Yulia, Kamis 11 Juni 2026.
Ia menjelaskan, karena keterbatasan tenaga dokter tersebut, layanan rehabilitasi medik di RSUD dr Murjani hanya dapat dibuka pada hari Rabu dan Kamis ketika dr Atet bertugas di Sampit.
“Biasanya beliau praktik di sini pada hari Rabu atau Kamis. Karena keterbatasan dokter, pelayanan rehabilitasi medik juga terbatas,” ujarnya.
Meski jadwal layanan terbatas, jumlah pasien yang datang cukup tinggi. Dalam sehari, pelayanan rehabilitasi medik dapat menangani sekitar 100 hingga 120 pasien, dari pagi bisa sampai magrib.
Menurut Yulia, kebutuhan layanan rehabilitasi medik sangat penting karena menjadi bagian dari rangkaian pengobatan berbagai penyakit. Pasien pascaoperasi, penderita gangguan saraf, hingga pasien penyakit dalam kerap memerlukan terapi lanjutan untuk memulihkan fungsi tubuh.
“Rehabilitasi medik itu merupakan bagian penting dari proses pengobatan. Banyak pasien yang setelah ditangani dokter spesialis lain tetap membutuhkan terapi lanjutan di fisioterapi atau rehabilitasi medik,” jelasnya.
Ia menilai minimnya jumlah dokter spesialis rehabilitasi medik disebabkan masih rendahnya minat lulusan dokter untuk mengambil bidang tersebut. Banyak dokter muda lebih memilih spesialis yang dianggap populer seperti bedah, anak, atau obstetri dan ginekologi.
“Saya selalu memotivasi dokter-dokter muda di rumah sakit ini untuk mengambil spesialis rehabilitasi medik. Justru bidang ini masih sangat dibutuhkan dan persaingannya tidak seketat spesialis yang sudah banyak peminatnya,” katanya.
Yulia berharap semakin banyak dokter muda yang tertarik menempuh pendidikan spesialis rehabilitasi medik sehingga kebutuhan layanan kesehatan masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih baik, termasuk di Kotim. (Nardi)












