Kondisi Jalan Rusak Parah Lima Kilometer di Parenggean, Warga Keluhkan Hanya Ditimbun Latrit

IST/BERITASAMPIT - Kondisi jalan di Kecamatan Parenggean yang dikeluhkan warga karena rusak parah dan belum mendapat penanganan permanen.

SAMPIT – Keluhan masyarakat terhadap kondisi jalan di Parenggean, Kabupaten (Kotim) tak terbendung. Warga mengaku kecewa karena ruas jalan sepanjang sekitar lima kilometer yang menjadi akses utama masyarakat disebut tak kunjung mendapat penanganan permanen dan hanya ditimbun menggunakan latrit.

Salah seorang warga, Leo, mengaku setiap hari melintasi ruas jalan tersebut. Menurutnya, kondisi jalan semakin memprihatinkan karena lapisan aspal sudah lama hilang dan kini hanya menyisakan tanah merah, lubang serta timbunan latrit.

“Setiap hari saya melintas di sini. Warga sudah muak melihat kondisi jalan yang rusak. Aspalnya sudah hilang, tinggal tanah merah, lubang dan latrit. Beberapa bulan lalu memang ditimbun latrit, tapi sekarang sudah habis lagi,” ujarnya Kamis 25 Juni 2026.

Ia mengatakan, masyarakat tetap rutin membayar pajak, namun belum merasakan manfaat berupa infrastruktur jalan yang layak. Kondisi tersebut, lanjut Leo, sangat membahayakan, terutama bagi pengendara roda dua.

“Motor yang membawa anak sekolah harus zig-zag menghindari lubang. Sangat berbahaya. Kami hanya ingin jalan yang layak untuk manusia, bukan sekadar ditimbun latrit. Jangan tunggu sampai ada korban,” tegasnya.

Selain membahayakan keselamatan pengguna jalan, kerusakan tersebut juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga.

Saat cuaca panas, debu tebal beterbangan hingga menyerupai asap dan mengganggu usaha masyarakat di sekitar jalan.

“Kalau siang debunya sangat parah sampai warung harus tutup lebih awal. Saat hujan, lubang dipenuhi air. Mobil travel yang setiap hari melintas juga sering mengalami kerusakan, mulai dari ban sobek hingga shockbreaker rusak,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Sunaryo. Menurut dia, kerusakan jalan diduga dipicu oleh banyaknya kendaraan bertonase besar yang melintas setiap hari.

“Beban jalan hanya sekitar delapan ton, tetapi banyak truk bermuatan 10 sampai 30 ton yang lewat, termasuk kendaraan perusahaan perkebunan dan alat berat. Kalau tidak ada perawatan rutin, wajar kalau jalan cepat rusak,” ujarnya.

Warga lainnya, Haris, mengaku kondisi jalan rusak sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan hingga kini belum ada penyelesaian yang memuaskan.

“Dari umur saya 17 tahun sampai sekarang umur 42 tahun, jalan Parenggean tidak pernah selesai masalahnya. Selalu rusak. Kami berharap pemerintah benar-benar memperhatikan kondisi ini,” katanya.

Sementara itu, warga bernama Zidan berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki jalan tersebut. Menurutnya, infrastruktur jalan yang baik akan berdampak langsung terhadap peningkatan perekonomian masyarakat.

“Kalau jalan bagus, ekonomi juga bagus. Jalan berlubang seperti ini juga menjadi salah satu faktor sering terjadinya kecelakaan,” ujarnya.

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi dapat segera melakukan perbaikan permanen agar akses transportasi dan aktivitas ekonomi warga tidak terus terganggu. (Nardi)

baca juga ...  Tambang Emas Ilegal di Kawan Batu Masih Marak, Warga Resah Meski Sudah Ditertibkan
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!