SAMPIT – Momentum 10 Muharram 1448 Hijriah dimanfaatkan Grup Burdah Al Banjari dan Dalaillunnisa Al Banjari untuk kembali melaksanakan tradisi memasak bubur asyura di kawasan Masjid Al Madinatul Mubarokah atau Masjid Kota, tepatnya di depan Ikon Jelawat Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Kamis 25 Juni 2026.
Panci besar terlihat mengepul, dibawahnya diletakkan kayu bakar dan api yang membara, aroma bubur menggugah selera pada siang hari itu.
Setelah salat juhur, masyarakat sudah banyak yang menyaksikan sekaligus antre untuk mendapatkan bubur Asyura, dengan menenteng wadah masing-masing.
Panitia kegiatan, Nana mengatakan tradisi tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur sekaligus berbagi kepada masyarakat.
“Alhamdulillah pada momen 10 Muharram ini kami kembali melaksanakan tradisi memasak bubur asyura untuk dibagikan kepada siapa saja, baik warga sekitar maupun masyarakat yang melintas,” ujarnya.
Nana menjelaskan, bubur asyura yang dimasak hari itu menggunakan sekitar 150 kilogram beras dengan campuran sedikitnya 41 jenis sayuran, mulai dari kentang, wortel, jagung, kelakai, aneka kacang dan masih banyak lagi.
Selain itu, panitia juga menyiapkan 10 kilogram daging ayam serta daging sapi yang dimasak dalam panci terpisah.
“Jadi ada dua jenis bubur, ada yang menggunakan daging ayam dan ada juga yang menggunakan daging sapi,” katanya.
Menurutnya, tradisi bubur asyura memiliki makna mendalam, yakni sebagai sarana berbagi dan mempererat tali persaudaraan antarsesama, serta mencari berkah.
“Semua bahan makanan dimasak menjadi satu, kemudian dibagikan kepada semua orang. Maknanya adalah berbagi kepada sesama, memperkuat solidaritas, rasa syukur, serta menumbuhkan semangat gotong royong karena memasak bubur ini membutuhkan banyak orang,” ungkapnya.
Ia juga berharap melalui kegiatan tersebut seluruh masyarakat senantiasa diberikan keselamatan dan dijauhkan dari berbagai musibah.
“Mudah-mudahan dengan kegiatan ini kita semua dijauhkan dari segala marabahaya dan mendapatkan keberkahan,” ucapnya.
Panitia memperkirakan lebih dari 5.000 bungkus bubur asyura akan dibagikan kepada masyarakat. Selain dibungkus, warga juga dipersilakan membawa wadah sendiri untuk mengambil bubur sesuai kebutuhan.
“Siapa saja boleh mengambil. Ada yang menggunakan kantong, ada juga yang membawa wadah sendiri, silakan sesuai kebutuhan,” tuturnya.
Nana menambahkan seluruh pelaksanaan kegiatan tersebut didanai pribadi secara swadaya.
Ia berharap tradisi yang telah berlangsung selama beberapa tahun itu dapat terus dilestarikan dan dilaksanakan setiap tahunnya.
“Insya Allah semoga setiap tahun kami masih bisa melaksanakan kegiatan ini. Alhamdulillah setiap tahun selalu mendapat dukungan dari masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu salah satu warga Sampit Sugi mengaku sangat senang bisa mendapatkan bubur asyura, dan berharap tradisi ini bisa terus lestari.
“Kami harapkan tradisi ini bisa terus lestari dan semakin banyak masyarakat yang melaksanakannya sehingga semakin banyak juga warga yang mendapatkan bubur Asyura,” ujarnya yang kebetulan melintas di lokasi. (Nardi)











