SAMPIT – Sebanyak 55 anak yatim menerima santunan dalam rangka peringatan Milad ke-4 Majelis Silaturrahim dan Sholawat Antang Barat yang digelar di halaman Musala Nurul Ihlas, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamis 25 Juni 2026 malam bertepatan dengan 10 Muharram 1448 Hijriah.
Santunan diberikan kepada 55 anak-anak yatim yang berasal dari sejumlah wilayah kecamatan di Kotim.
Acara juga dirangkai dengan ceramah dari Ustaz Fajar Amirul Mu’ti yang mengingatkan bahwa Rasulullah SAW dikenal sangat dekat dengan anak-anak yatim.
Rasulullah dijuluki sebagai “Abul Yatama” atau ayah bagi anak-anak yatim karena besarnya perhatian dan kasih sayang beliau kepada mereka.
Ustaz Fajar menyampaikan makna anak yatim tidak hanya dipahami sebatas anak yang ditinggal wafat ayahnya. Secara sosial, masih banyak anak yang ayahnya masih hidup, namun pergi tidak memberikan nafkah, kasih sayang, maupun perhatian sehingga kehidupannya tidak jauh berbeda dengan anak yatim.
“Yang lebih memprihatinkan adalah ketika seorang ayah masih hidup, tetapi seolah hilang di tengah keluarganya. Tidak memberi nafkah, tidak memberikan kasih sayang kepada anak maupun istrinya. Jangan sampai ada ayah yang seperti itu,” pesannya.
Ia kembali mengingatkan hadis Rasulullah SAW, bahwa orang yang menyantuni anak yatim akan memperoleh kedudukan yang sangat dekat dengan Rasulullah di surga.
Rasulullah SAW bersabda, “Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini,” sambil beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Dalam ceramahnya, Ustaz Fajar juga menjelaskan bahwa menghardik anak yatim tidak selalu berarti memukul atau menyiksa secara fisik. Sikap tidak peduli, berpaling, serta mengabaikan hak-hak mereka juga termasuk bentuk menghardik anak yatim sebagaimana diperingatkan dalam Al-Qur’an.
“Menghardik anak yatim bukan hanya memukul atau mengambil hak mereka, tetapi ketika hati kita berpaling dan tidak peduli terhadap kondisi mereka, itu juga merupakan bentuk menghardik,” katanya.
Ia mengajak seluruh jemaah untuk merenungkan nasib anak-anak yatim yang hadir dalam acara tersebut dengan membayangkan seandainya mereka adalah anak sendiri.
Jemaah jangan hanya sibuk mengejar urusan dunia. Jika ingin dimudahkan berbagai urusan, maka pedulilah dengan sesama termasuk pada anak-anak yatim.
“Bagi yang memiliki kelebihan harta, mari santuni anak yatim. Bisa saja suatu saat nanti anak-anak kita yang akan merasakan hal serupa dan ada orang lain yang membantu mereka. Timbal balik kebaikan itu ada,” tuturnya.
Ustaz Fajar menegaskan bahwa seorang muslim yang baik adalah muslim yang memiliki kepedulian sosial, khususnya kepada anak yatim. Menurutnya, kepedulian kepada sesama merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman dan ketakwaan seseorang.
Ia juga menyebutkan ada tiga anak yatim yang menjadi prioritas yaitu anak yatim yang belum balig, kemudian anak yatim yang sudah dewasa namun belum bekerja dan anak yatim yang memiliki keadaan terhimpit atau kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Fajar juga mengisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melihat seorang anak kecil menangis sendirian, sementara anak-anak lain bermain dengan penuh kebahagiaan bersama orang tua mereka. Setelah ditanya, anak tersebut mengaku sedih karena ayahnya telah gugur dalam peperangan sehingga ia tidak lagi merasakan kasih sayang seorang ayah.
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW kemudian menghibur anak tersebut dan berkata, “Apakah engkau ridha jika aku menjadi ayahmu, Fatimah menjadi saudaramu, serta Hasan dan Husain menjadi saudaramu?”
Kisah tersebut menjadi teladan bagi umat Islam untuk senantiasa menyayangi, memuliakan, dan memperhatikan kehidupan anak-anak yatim, terutama pada momentum 10 Muharram yang disebut juga Hari Raya bagi anak yatim. (Nardi)











