PALANGKA RAYA – Pembangunan Huma Betang di kawasan eks Kantor Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah (Kalteng), Palangka Raya, menggunakan sekitar 80 persen kayu ulin agar bangunan tersebut memiliki daya tahan hingga ratusan tahun.
Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, mengatakan penggunaan kayu ulin dipilih karena terkenal kuat dan tahan lama sehingga diharapkan Huma Betang dapat berdiri kokoh selama berabad-abad.
“Rumah Betang ini dibuat pakai kayu ulin supaya kuat berabad-abad. Hampir 80 persen ulin semua,” ujarnya saat ditemui di eks Kantor Dinas Kehutanan Kalteng, Kamis, 23 Juli 2026.
Menurut Agustiar, Huma Betang tidak hanya menjadi bangunan monumental, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat sejarah dan identitas budaya bagi generasi mendatang.
“Harapannya begini, generasi sekarang jangan sampai tidak punya landasan, tidak punya sejarah. Kita tidak ingin itu,” katanya.
Ia menegaskan kemajuan daerah tidak boleh menghilangkan budaya yang diwariskan para pendahulu. Menurutnya, negara-negara maju justru mampu menjaga dan melestarikan budaya di tengah perkembangan zaman.
“Kalau negara maju, mereka ingin budaya-budaya sebelumnya tetap dilestarikan. Intinya budaya jangan sampai tergerus sama zaman,” ucapnya.
Selain sebagai ikon budaya, Huma Betang juga akan difungsikan sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan berskala nasional karena mampu menampung hingga sekitar 8.000 orang.
Tak hanya itu, kawasan tersebut juga akan dikembangkan menjadi destinasi wisata baru yang menghadirkan wisata kuliner, produk herbal, serta berbagai makanan khas Dayak.
“Tentunya ini tempat wisata baru, suatu inovasi baru. Di sini tempatnya wisata kuliner, herbal, semuanya ada nanti. Ada makanan-makanan khas Dayak juga, jadi jangan sampai hilang itu,” tuturnya.
Sebagai informasi, pembangunan tahap pertama Huma Betang didukung anggaran sebesar Rp39,2 miliar yang bersumber dari APBD Kalteng Tahun 2026. Bangunan utama dirancang berukuran sekitar 80 x 170 meter.
(Sya'ban)












