20 Hektare Kebun Sawit Warga Bagendang Tengah Terbakar akibat Karhutla

IST/BERITASAMPIT - Kebakaran kebun sawit warga di Bagendang Tengah.

SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap sumber penghidupan masyarakat di Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Timur (Kotim). Sekitar 20 hektare kebun sawit milik warga dilaporkan terdampak kebakaran dalam sepekan terakhir.

Kepala Bagendang Tengah Untung mengatakan, kebakaran terjadi di kawasan perkebunan masyarakat. Hingga Kamis 13 Agustus 2026, sejumlah titik api masih belum sepenuhnya padam sehingga warga terus melakukan penjagaan agar api tidak meluas ke kebun lainnya.

“Kurang lebih 20 hektare,” katanya.

Ia menjelaskan, sebagian tanaman sawit yang terdampak masih berusia muda, sekitar dua hingga hampir tiga tahun. Kondisi tersebut membuat dampak kebakaran cukup besar bagi petani karena tanaman yang terbakar merupakan bagian dari sumber penghasilan mereka.

Untuk tanaman yang masih muda, api berpotensi menyebabkan tanaman mati. Sedangkan sawit yang lebih besar dan mendekati masa produksi dapat mengalami gangguan pertumbuhan sehingga waktu pemulihannya menjadi lebih lama.

“Kalau yang baru menanam, itu mungkin mati. Tapi kalau yang sudah mau produksi, mungkin pertumbuhannya terganggu, lambat pemulihannya. Tapi kerugian warga itu yang tidak bisa panen,” ujarnya.

Untung menyebutkan, pemerintah belum menghitung secara keseluruhan nilai kerugian yang dialami masyarakat. Namun, kehilangan tanaman dan tertundanya hasil panen menjadi beban tersendiri bagi petani.

Penanganan kebakaran di lapangan juga menghadapi kendala, terutama keterbatasan sumber air dan sulitnya akses menuju lokasi. Kondisi sungai yang mulai mengering turut menyulitkan petugas maupun warga mendapatkan air untuk pemadaman.

“Kendala kami di lapangan airnya susah. Akses menuju lokasi jauh,” jelasnya.

Pemerintah bersama masyarakat, Masyarakat Peduli Api (MPA), Forkopimcam, TNI dan Polri terus berkoordinasi dalam upaya mencegah api meluas. Warga juga diminta menjaga kebun masing-masing yang masih belum terdampak.

Menurut Untung, pihaknya telah mengusulkan penanganan lebih serius, termasuk bantuan water bombing. Namun, kebutuhan tersebut masih menunggu kewenangan pemerintah provinsi.

Sementara itu, pemerintah telah menyiapkan sejumlah peralatan untuk mengantisipasi apabila api mendekati permukiman. Setidaknya tiga hingga empat unit pompa air dapat dikerahkan dan dibawa menggunakan kendaraan pikap.

Namun, peralatan tersebut masih terbatas untuk menjangkau titik kebakaran yang berada jauh dari permukiman. Karena itu, warga diarahkan untuk mempertahankan lahan yang belum terbakar sembari menunggu dukungan penanganan lebih lanjut.

“Sebatas yang belum terbakar dijaga. Saya instruksikan kepada warga, jagalah yang belum terbakar kebunnya masing-masing,” bebernya.

Untung mengatakan, kebakaran di kawasan perkebunan bukan persoalan baru ketika musim kemarau berlangsung. Jika kondisi panas bertahan hingga dua atau tiga bulan, sejumlah kawasan yang sebelumnya telah dipetakan rawan kembali berpotensi terbakar.

Ia menduga kebakaran kali ini lebih dipicu kelalaian manusia. Karena itu, pemerintah terus mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam menggunakan api, terutama saat beraktivitas di kawasan perkebunan.

Sosialisasi pencegahan juga dilakukan dalam berbagai kesempatan. Masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Dari pemerintah sudah menyampaikan semua berkaitan dengan keadaan alam, iklim ini. Menyikapi ini kan sudah tahu juga,” pungkasnya. (Nardi)


baca juga ...  Sertifikat Raib di Tangan Pengurus PTSL, Warga Pundu Tempuh Jalur Hukum ke Kejaksaan
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!