Ketua Kwarcab Kotim Sampaikan Pelaksanaan Kemah Perlu Pertimbangkan Kondisi Asap dan Karhutla

NARDI/BERITASAMPIT - Ketua Kwarcab Kotim Angga Aditya Nugraha.

SAMPIT – Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kotawaringin Timur (Kotim) Angga Aditya Nugraha, menanggapi ramainya isu pelaksanaan Kemah Ceria Penggalang (KCP) 2026 yang direncanakan digelar Oktober disaat masih adanya kabut asap dan karhutla di Sampit.

Ia menilai bahwa pelaksanaan kemah Pramuka perlu mempertimbangkan kondisi udara dan perkembangan karhutla menjelang pelaksanaan.

Kondisi asap akibat kebakaran hutan dan lahan perlu menjadi perhatian serius karena dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan, khususnya bagi peserta didik yang nantinya mengikuti kegiatan di luar ruangan.

“Perlu ada pertimbangan lebih lanjut mengenai waktu pelaksanaan kegiatan kemah yang rencananya diselenggarakan di Sampit. Kita mengingat dampak asap yang diakibatkan karhutla dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan,” ujar Angga, Kamis 10 September 2026.

Namun, Angga menyebutkan apabila menjelang waktu pelaksanaan kondisi sudah membaik, tidak ada lagi asap dan karhutla sudah berakhir, maka kegiatan tersebut bisa dilaksanakan.

Kegiatan kepramukaan memiliki banyak manfaat positif bagi siswa, terutama dalam membangun karakter, kedisiplinan, kemandirian, kerja sama serta rasa tanggung jawab.

“Namun kita melihat kondisi kedepan jika asap dan karhutla sudah tidak ada maka bisa dilaksanakan. Mengingat banyak manfaat positif bagi siswa, sebagaimana kegiatan tersebut dapat membangun karakter positif bagi siswa,” jelasnya.

Ia menambahkan, keputusan akhir pelaksanaan tentunya harus melihat kondisi di lapangan dan mengutamakan keselamatan serta kesehatan seluruh peserta.

Diberitakan sebelumnya, rencana pelaksanaan Kemah Ceria Penggalang (KCP) 2026 mendapat protes dari sejumlah orang tua siswa.

Kemah tersebut rencananya akan digelar pada 2–3 Oktober 2026 di Lapangan Islamic Centre, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit. Kegiatan ini akan melibatkan 960 pelajar dari 48 sekolah, didampingi 96 pembina dan 60 panitia, dengan total 1.116 orang yang terlibat.

Namun, rencana tersebut menjadi perhatian karena kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim. Di sisi lain, sejumlah sekolah juga masih menerapkan kebijakan belajar dari rumah (BDR) sebagai upaya mengurangi risiko paparan asap terhadap pelajar.

Sejumlah orang tua mempertanyakan pelaksanaan latihan persiapan kemah yang tetap mengharuskan siswa datang dan beraktivitas di luar ruangan di tengah kondisi udara yang belum sepenuhnya membaik.

Para orang tua pada dasarnya tidak menolak kegiatan kepramukaan. Mereka mendukung kegiatan tersebut karena dinilai memiliki manfaat dalam membentuk karakter, kedisiplinan dan kemandirian anak. Namun, mereka meminta kondisi kesehatan dan kualitas udara menjadi pertimbangan utama sebelum kegiatan digelar. (Nardi)


baca juga ...  Umat Muslim di Sampit Rindu Laksanakan Ibadah dan Iktikaf di Masjid
Bagikan:
Berita Populer