Sungai Lepeh Asin, 10 Desa dan Kelurahan di MHS Kotim Kesulitan Air Bersih

NARDI/BERITASAMPIT - Bupati Kotim Halikinnor menyalurkan air bersih ke desa Sei Ijum dan Parebok Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.

SAMPIT – Kemarau dan kekeringan mulai berdampak serius terhadap kebutuhan air bersih masyarakat Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), Kabupaten Kotawaringin Timur. Sebanyak delapan desa dan dua kelurahan di wilayah tersebut terdampak kondisi kekurangan air bersih.

Camat Mentaya Hilir Selatan Wahyudah mengatakan, persoalan paling dirasakan masyarakat karena sumber air Perumdam Tirta Mentaya di Sungai Lepeh kini sudah terpengaruh air laut.

Sejak 1 September 2026, air dari sumber tersebut tidak lagi memungkinkan digunakan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat, sementara sebelnnya air masih tawar dan masih layak konsumsi.

“Terhitung mulai 1 September sudah tidak bisa digunakan, walaupun masyarakat kami banyak yang sudah memasang PDAM,” kata Wahyudah, Kamis 17 September 2026 saat mengawal distribusi air bersih bersama Bupati Kotim.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena kadar garam air meningkat sehingga dikhawatirkan membahayakan kesehatan apabila tetap dikonsumsi.

Atas kondisi tersebut, pihak kecamatan meminta pemerintah daerah membantu mendistribusikan air bersih dari Sampit untuk memenuhi kebutuhan warga.

Ia mengatakan, persoalan air asin sebenarnya kerap terjadi ketika kemarau berlangsung cukup lama. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, air Sungai Mentaya biasanya mulai terasa asin setelah memasuki kemarau berkepanjangan.

“Memang kebiasaan kalau lewat dari dua bulan, air di Sungai Mentaya itu asin,” ujarnya.

Sebelumnya, distribusi air dari sumber Sungai Lepeh telah dilakukan sejak Juli. Saat itu kondisi air masih dapat digunakan masyarakat untuk minum, memasak dan kebutuhan lainnya. Namun memasuki September, kondisi air semakin tidak memungkinkan.

Saat ini bantuan air bersih mulai didistribusikan ke sejumlah desa menerima bantuan untuk sekitar 300 kepala keluarga.

Setiap rumah mendapatkan satu wadah air dengan kapasitas sekitar 220 liter.

Wahyudah menyebut seluruh wilayah Kecamatan MHS terdampak kekurangan air, namun kawasan bagian selatan mengalami kondisi yang lebih berat.

Sebagian masyarakat masih dapat memenuhi kebutuhan dengan membeli air. Namun bagi warga di kawasan pesisir, pilihan tersebut tidak selalu mudah sehingga distribusi bantuan menjadi sangat dibutuhkan.

Ia berharap persoalan tersebut dapat menjadi perhatian untuk penanganan jangka panjang. Ia mendukung wacana Bupati terkait diperlukan teknologi pengolahan air yang mampu mengatasi kadar garam pada sumber air sehingga masyarakat tidak kembali mengalami kesulitan setiap kali musim kemarau.

“Solusi jangka panjang harus memang dibuatkan teknologi baru yang membuat air dari yang payau ini tidak asin lagi dan bisa dikonsumsi,” pungkasnya. (Nardi)


baca juga ...  Sumpah Pemuda ke-98, Pemkab Kotim Harapkan Pemuda Berkarakter dan Peduli Sesama
Bagikan:
Berita Populer