SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menimbulkan kerugian, setelah sebelumnnya alat berat milik kecamatan terbakar. Kali ini, sebuah alat berat jenis grader milik salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit ikut terbakar saat berada di lokasi karhutla di wilayah Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Informasi tersebut disampaikan warga setempat, Obet mengatakan alat berat itu semestinya digunakan untuk membantu upaya penanganan dan pemadaman karhutla.
Berdasarkan video yang beredar, grader tersebut berada di sekitar lokasi yang sedang dilanda kebakaran.
Namun, kondisi di lapangan berubah cepat. Api semakin mendekat, kebun sawit warga juga terkena imbasnya, grader berada di jalan untuk membantu padamkan api.
“Api mengelilingi lokasi. Grader tiba-tiba mati dan kemudian langsung terbakar,” ujar Obet, Minggu 20 September 2026.
Situasi di lokasi juga cukup sulit, tak ada air, warga hanya bisa pasrah menyaksikan grader terbakar. Bahkan, sebagian warga menggunakan daun untuk menahan dan memukul kobaran api karena tidak tersedia air di lokasi kejadian.
Asap tebal menyelimuti kawasan sehingga jarak pandang terganggu dan membuat mata terasa perih.
Ditambah angin yang cukup kencang, kobaran api dengan cepat menjalar dan menyulitkan warga melakukan pemadaman secara manual.
Hingga akhirnya bantuan truk tangki dari perusaan tiba namun grader sudah terbakar tak bisa diselamatkan.
Peristiwa terbakarnya grader ini menambah daftar kejadian kendaraan maupun alat yang menjadi korban karhutla di Kotim.
Sebelumnya, kasus kebakaran alat berat jenis excavator milik Pemkab Kotim juga terjadi di tengah kondisi karhutla pada 10 Agustus 2026 di wilayah Bagendang, Desa Ramban, Mentaya Hilir Utara.
Alat tersebut dalam kondisi rusak, bagian mesin sudah dilepas untuk diperbaiki sehingga tidak bisa bergerak atau di dievakuasi ketika api mendekat.
Kasus kedua adalah ekskavator mini yang ditemukan hangus pada Rabu 19 Agustus 2026 di lahan milik warga. Kondisinya terlihat dari video yang beredar, tetapi kronologi dan penyebab pastinya saat itu belum diketahui. (Nardi)











