PULANG PISAU – Upaya mencegah stunting tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga dimulai dari pemenuhan gizi sehari-hari di lingkungan keluarga. Melalui program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Pulang Pisau mengajak keluarga berisiko stunting memahami sekaligus mempraktikkan penyediaan makanan bergizi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Kegiatan pertemuan kedua ini dilaksanakan di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya.
Kegiatan yang berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Tumbang Nusa tersebut dihadiri Kepala DP3AP2KB Pulang Pisau dr Pande Putu Gina, didampingi Kabid KKS Lengga Hasanah Siregar, beserta jajaran, Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan Jabiren Raya, serta ibu-ibu dari keluarga berisiko stunting. Materi disampaikan Susana, AMG, ahli gizi Puskesmas Jabiren, dengan melibatkan kader Posyandu setempat.
Kepala DP3AP2KB Pulang Pisau, dr Pande Putu Gina, Minggu 1 November 2026, menjelaskan DASHAT dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko stunting. Melalui edukasi dan praktik langsung, masyarakat diharapkan mampu mengenali kebutuhan gizi serta menyusun menu sehat, beragam, dan seimbang menggunakan bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
“Dashat memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah didapat. Harapannya, keluarga, khususnya yang berisiko stunting, memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menyediakan makanan sehat, bergizi, dan beragam untuk mencegah maupun mengatasi masalah stunting,” jelas dr Pande.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut mencakup tiga bentuk pembelajaran, yakni penyuluhan gizi, demonstrasi memasak, dan pemberian makanan tambahan. Penyuluhan memberikan pemahaman mengenai risiko stunting serta pentingnya pola konsumsi sehat, sedangkan demonstrasi memasak menjadi sarana bagi peserta untuk mempelajari cara mengolah bahan pangan lokal menjadi hidangan yang memenuhi kebutuhan nutrisi.
Selain memperoleh materi dan praktik pengolahan makanan, peserta juga mendapatkan makanan tambahan sebagai bagian dari kegiatan. dr Pande berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada saat pertemuan, tetapi dapat diterapkan secara mandiri dalam penyediaan makanan sehari-hari bagi anak dan anggota keluarga lainnya.
“Melalui penyuluhan gizi, demonstrasi memasak, dan pemberian makanan tambahan, kami berharap ibu-ibu dapat mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh di rumah sehingga kebutuhan gizi anak lebih diperhatikan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya,” tambahnya.
Program Dashat menjadi salah satu pendekatan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa dalam membangun kebiasaan konsumsi pangan bergizi. Keterlibatan pemerintah desa, tenaga kesehatan, PLKB, dan kader Posyandu juga menjadi bagian penting agar edukasi gizi menjangkau keluarga secara langsung. Dengan demikian, pencegahan stunting dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga melalui pemilihan bahan makanan, pengolahan yang tepat, serta pemenuhan gizi anak secara berkelanjutan. (denny)











