SAMPIT – RSUD dr Murjani Sampit kembali jadi sorotan tajam publik. Layanan rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ini menuai keluhan warganet yang tak segan meluapkannya di media sosial.
Minggu, 13 April 2025, sebuah unggahan di salah satu grup Facebook lokal langsung memantik reaksi. Tak hanya komentar pedas, sejumlah pengguna juga kompak menandai akun-akun lembaga penegak hukum, seolah ingin menarik perhatian pihak berwenang terhadap polemik yang terjadi.
Akun bernama Aplia Suci Rahma Dany menulis, “Laporkan ke Kejagung aja. Biar pihak Kejagung yang eksekusi @kejaksaan RI.”
Komentar senada juga datang dari Agus yang menyebut “BPK”, kemudian Frada Wulandari yang menandai “KPK RI”.
Bahkan, Muhar Mecca menulis nama Presiden Indonesia, “Prabowo Subianto, diusut Pak.”
Tak hanya itu, Andi Wahyudi menyinggung, “Banyak tikus di paritnya, paling lho ya paling.”
Sementara Hendri Pratama menyebut “BPK-RI”, dan G Purwa Mangku Nata mengungkapkan, “Ngeri… anggaran dana RS Murjani sebesar 50 miliar, tapi pelayanan kesehatan tidak memuaskan. Sidak Setkab RI.”
Tak berhenti di situ, beberapa komentar lain juga menyoroti buruknya pelayanan dan rumitnya sistem antrean di RSUD dr Murjani.
“Percuma aja rumah sakit Sampit Murjani, bagus2, d renofasi, karena pelayanan terhadap masyarakat yg sakit aja kurang baik,!!, banyak sdh keluhaan masyarakat, bicarakan masalah itu, apa Iagi katanya pakai BPJS, masyarakat miskin, wah??, parah apakah mereka ngak tau bahwa BPJS d bayar sama pemerintah, namanya aja sdh BPJS, pemerintah yg bayar, masalah renofasi masalah k 10, yg perlu dulu pelayanan,” tulis akun Sejadah KU.
Sementara itu, Eko Susilawanto menyebut, “Banyak Mangaramputi (membohongi) orang.”
“Sudah biasa, aku termasuk korban. Intinya kalau ada duit, baik cek pribadi,” timpal akun Inara.
Komentar pedas datang dari Titi yang menulis, “Ke mana anggaran sampai tidak cukup. Sudahlah sadar pihak manajemen Murjani. Layani pasien semaksimal mungkin, jangan ada drama ini itu. Ingat dengan dosa.”
Dan Yoga menutup dengan sindiran tajam, “Masuk kantong buhan-nya sudah setengahnya.”
Sorotan publik ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai berani bersuara di media sosial, termasuk mendorong aparat hukum untuk turun tangan menindaklanjuti dugaan permasalahan dalam pelayanan kesehatan tersebut.
(Nardi)












