SAMPIT – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) secara tegas melarang penggunaan istilah dan seremoni “wisuda” dalam kegiatan perpisahan di jenjang pendidikan TK, PAUD, SD hingga SMP.
Kepala Disdik Kotim, M Irfansyah menegaskan bahwa wisuda hanya diperuntukkan bagi lulusan perguruan tinggi, bukan siswa di jenjang dasar dan menengah. Ia menilai istilah wisuda seringkali digunakan hanya demi kepentingan foto-foto dan seremonial yang terkesan berlebihan.
“Jangan bermewah-mewahan, dan tidak ada lagi istilah wisuda untuk siswa TK, PAUD, SD, atau SMP. Kami tetap tegaskan itu tidak boleh lagi,” kata Irfansyah, Rabu 16 April 2025.
Sebagai gantinya, Irfansyah menyampaikan sekolah bisa melaksanakan kegiatan pelepasan siswa dengan cara yang lebih sederhana namun tetap berkesan. Salah satu bentuk seremoni yang dibolehkan, menurutnya, adalah pelepasan atribut seperti dasi dan topi sekolah sebagai simbol kelulusan.
“Yang boleh itu seperti pelepasan dasi dan topi, bukan wisuda. Itu lebih sesuai dan mencerminkan semangat pendidikan karakter,” lanjutnya.
Menjelang akhir semester genap tahun ajaran 2024/2025, Irfansyah juga mengimbau agar kegiatan perpisahan siswa dilaksanakan di lingkungan sekolah. Tujuannya agar kegiatan ini memiliki makna edukatif dan tidak membebani orang tua siswa secara finansial.
“Kami harapkan perpisahan siswa, khususnya kelas VI SD dan kelas IX SMP, cukup dilakukan di sekolah. Tidak perlu mewah, yang penting bermakna dan berkesan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan perpisahan di sekolah dapat menjadi momen untuk mengundang orang tua siswa agar lebih mengenal lingkungan tempat anak-anak mereka menimba ilmu. Ini juga sejalan dengan semangat “back to school” yang tengah digalakkan.
“Orang tua yang biasa mengantar anaknya ke sekolah hanya sampai gerbang. Nah, momen perpisahan ini bisa jadi kesempatan bagi mereka untuk masuk dan melihat langsung kondisi sekolah, serta memberikan masukan positif untuk kemajuan pendidikan,” tambahnya.
Tak lupa, Irfansyah juga mengingatkan siswa kelas IX untuk tetap fokus menghadapi ujian akhir dan mempersiapkan diri menuju jenjang pendidikan berikutnya.
Imbauan ini muncul menyusul maraknya kegiatan perpisahan sekolah yang terkesan glamor dan mengundang kritik, terutama karena memberatkan orang tua siswa. Disdik Kotim berharap, dengan pendekatan yang lebih sederhana dan edukatif, kegiatan perpisahan tetap membawa kesan mendalam tanpa menyalahi esensi pendidikan. (nardi)












