Semangat Hidup Sehat Dibalut Hangatnya Pagi di Nur Mentaya

NARDI/BERITA SAMPIT - Pesepeda saat melintasi di kawasan PJU Nur Mentaya Sampit di pagi hari.

NUR Mentaya ketika malam
tiba, kawasan ini menjelma jadi surga kuliner yang menggoda lidah di tengah gelapnya lampu padam. Namun saat pagi menjelang, tempat yang sama berubah menjadi jalur joging yang hangat dan bersahabat, di mana masyarakat menikmati udara segar, sinar matahari, dan semangat hidup sehat.

Ahmad Winardi SE, Sampit

USAI sudah malam gelap menyelimuti kawasan kuliner Penerangan Jalan Umum (PJU) Nur Mentaya Sampit (Kotim) pagi datang dengan wajah berbeda. Cahaya jingga perlahan menyembul dari ufuk timur, membelah langit yang masih kelabu.

Udara pagi yang sejuk menyapa kulit, memberi sensasi dingin yang menenangkan. Kegelapan malam mulai tergantikan oleh sinar mentari yang hangat, membangunkan suasana baru di kawasan yang semalam dipenuhi tawa samar dalam kegelapan.

Suara langkah kaki menggema dari kejauhan. Seorang pria terlihat berlari santai, melewati deretan tiang lampu lengkung yang membentuk lorong cahaya, meski cahaya itu belum juga kembali menyala. Kawasan ini yang di malam hari menjelma sebagai pusat kuliner, saat pagi berganti rupa menjadi jalur favorit jogging warga Sampit, Minggu 11 Mei 2025.

Tak hanya pelari, para pesepeda juga ramai melintas. Pengunjung yang datang kebanyakan memarkir kendaraan mereka di kawasan Stadion 29 Nopember Sampit sebagai titik awal, lalu memulai jogging menyusuri jalur tiang lampu sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer hingga bundaran Samekto, sebagian mengambil jarak lebih pendek sebelum kembali lagi.

Sementara dari arah sebaliknya, warga sekitar memulai dari dekat bundaran dan menuju ke stadion, menciptakan lalu lintas sehat dua arah yang damai dan bersahabat.

Beragam usia terlihat berpadu dalam semangat yang sama. Lansia menjaga kebugaran tubuh, anak muda untuk menjaga postur dan stamina, tak ketinggalan anak-anak yang berlari-larian, mengayuh sepeda kecil mereka, bahkan bayi hadir ikut dalam kereta dorong didampingi orang tuanya. Semua menyatu dalam harmoni pagi yang menyegarkan.

baca juga ...  Road Race Tetap Digelar di Taman Kota Sampit, Start-Finish Dipindah demi Jaga Kenyamanan Ibadah dan Layanan Kesehatan

“Kami di sini biasanya jam enam, pulangnya paling jam delapan,” ucap Ranu Pranata, salah satu warga yang sedang duduk sejenak melepas lelah.

Mengenakan jersey futsal berwarna gelap, Ranu mengaku tidak terlalu rutin jogging setiap Minggu pagi. “Tergantung mood saja,” katanya sambil tertawa kecil, lalu melanjutkan lari bersama teman-temannya.

Mereka berlari dan bersepeda di antara deretan warung-warung kuliner yang sudah tutup. Bekas hiruk pikuk malam sebelumnya tampak sepi. Hanya segelintir warung pinggir jalan yang sanggup buka hingga surya kembali menampakkan sinarnya, melayani pelanggan setia nongkrong bareng menantikan malam berakhir.

Selebihnya, dinding seng warung tertutup rapat, kursi-kursi ditumpuk, dan lampu padam tanpa tanda kehidupan. Kesunyian pagi menciptakan suasana kontras dari keramaian yang pernah mewarnai kawasan ini.

Setelah lelah berolahraga, sebagian besar warga beristirahat di sekitar Stadion 29 Nopember. Disanalah para pedagang kecil sudah bersiap menyambut para pelari dengan aneka jajanan dan minuman. Sebagian pelari langsung mencari sarapan, sementara lainnya cukup duduk santai sambil meneguk air putih.

Matahari perlahan naik, sinarnya mulai menghangatkan badan. Suasana pagi yang sejuk berubah mulai terik. Satu per satu warga beranjak pergi, meninggalkan Nur Mentaya yang ramai dengan pejalan kaki kini mulai terganti dengan keramaian arus kendaraan bermotor, menunggu waktu kembali bergulir, siang hingga malam kembali datang.

(Bersambung)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!