PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) memastikan bahwa seluruh sekolah di wilayahnya kini telah memiliki akses listrik dan internet.
Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, saat ditemui di Istana Isen Mulang, Rumah Jabatan Gubernur, Kamis malam, 29 Mei 2025.
“Perhatian Gubernur dalam dunia pendidikan sangat luar biasa. Sekolah yang tidak memiliki listrik telah dipasangi solar panel, dan sekolah yang tidak memiliki internet telah kami fasilitasi dengan Starlink. Jadi saat ini tidak ada sekolah yang tidak memiliki listrik dan internet,” ujar Reza.
Klaim ini diperkuat oleh pelaksanaan program Pak Gubernur Mengajar yang digelar serentak pada Senin, 26 Mei 2025, dan diikuti oleh 422 SMA dengan total peserta mencapai 97 ribu siswa se-Kalimantan Tengah, termasuk sekolah-sekolah yang berada di daerah pedalaman.
“Bahkan saat zoom meeting program Pak Gubernur Mengajar, sekolah-sekolah di pedalaman bisa ikut serta. Itu bukti bahwa konektivitas sudah merata,” tambah Reza.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfosantik) Provinsi Kalteng, Rangga Lesmana, mengatakan, Gubernur Kalteng telah menginstruksikan agar dalam waktu dua bulan ke depan, seluruh desa yang masih blank spot dapat teraliri jaringan internet.
“Pak Gubernur meminta agar tidak ada lagi blank spot di Kalteng. Kami di Diskominfosantik telah menjalankan program Internet Desa, dan saat ini sudah ada 50 desa yang terpasang perangkat internet berbasis Starlink. Ini akan terus kami percepat,” jelas Rangga, saat ditemui Berita Sampit di Kantor Gubernur Kalteng, Kamis siang, 22 Mei 2025.
Menurut Rangga, teknologi Starlink dipilih karena mampu menjangkau daerah-daerah terpencil yang tidak tercover jaringan fiber optik maupun BTS seluler.
Namun, ia mengakui proses instalasi tidak mudah karena membutuhkan pengaturan titik koordinat dan aktivasi melalui sistem khusus.
“Starlink ini berbasis satelit orbit rendah, jadi pemasangannya harus presisi. Selain itu, proses aktivasi memerlukan sistem pembayaran digital seperti kartu kredit. Kami terus menambah tim teknis agar instalasi tidak terhambat,” ujarnya.
Wilayah dengan blank spot terbanyak tercatat berada di Kabupaten Katingan dan Seruyan. Pemerintah provinsi pun menggandeng Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyinkronkan pemasangan internet dengan penyediaan listrik.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Konektivitas internet harus didukung ketersediaan listrik. Maka, program ini dijalankan secara kolaboratif dengan dinas terkait agar efisien dan tepat sasaran,” tambah Rangga.
Untuk mendukung percepatan ini, Pemprov Kalteng telah mengalokasikan dana sebesar Rp6,9 miliar melalui APBD 2025. Rangga optimistis, meskipun waktu terbatas, target bisa tercapai sebelum peluncuran program nasional yakni Koperasi Desa/Kelurahan Merah, pada Juni 2025.
(Sya'ban)












