PALANGKA RAYA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengingatkan kembali bahaya merkuri bagi kesehatan dan lingkungan, seiring dimulainya program nasional penarikan alat kesehatan (alkes) bermerkuri dari fasilitas layanan kesehatan (fasyankes).
Kepala DLH Provinsi Kalteng, Joni Harta, menegaskan bahwa merkuri merupakan zat berbahaya yang dapat menimbulkan gangguan serius pada tubuh manusia, mulai dari kerusakan saraf, ginjal, hingga perkembangan janin pada ibu hamil.
Sementara itu, jika tidak dikelola dengan benar, limbah merkuri juga berpotensi mencemari tanah, air, dan rantai makanan.
“Merkuri bukan hanya berbahaya bagi pasien yang menggunakan alkes, tetapi juga bagi tenaga medis, bahkan masyarakat luas jika limbahnya masuk ke lingkungan. Karena itu, penghapusan alkes bermerkuri harus menjadi prioritas bersama,” jelas Joni di Kantor DLH Provinsi Kalteng, Rabu, 27 Agustus 2025.
Dalam program ini, DLH Kalteng ditunjuk sebagai Depo Storage yang berfungsi menampung alkes bermerkuri hasil penarikan dari kabupaten/kota di seluruh Kalimantan Tengah.
Nantinya, alat yang terkumpul akan dikelola sesuai standar pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Selain mengingatkan bahaya merkuri, Joni juga mendorong rumah sakit, puskesmas, dan klinik di Kalimantan Tengah untuk segera beralih ke alkes ramah lingkungan.
Menurutnya, kini sudah tersedia berbagai alternatif yang lebih aman, seperti termometer digital dan tensimeter aneroid.
“Alkes ramah lingkungan sudah banyak tersedia di pasaran. Dengan beralih ke alat yang lebih aman, tenaga kesehatan dapat melayani masyarakat tanpa harus khawatir terhadap risiko merkuri,” katanya.
Program penarikan ini, tambahnya, merupakan bagian dari upaya mencapai target nasional Indonesia Bebas Merkuri Tahun 2030.
DLH Kalteng pun berkomitmen melakukan edukasi kepada fasyankes dan masyarakat mengenai bahaya merkuri dan pentingnya transisi ke teknologi kesehatan yang lebih modern dan aman.
“Kami ingin gerakan ini bukan hanya soal penarikan alkes, tetapi juga perubahan kesadaran. Jika semua pihak berkomitmen, Kalimantan Tengah bisa menjadi daerah yang lebih sehat, bebas dari ancaman merkuri,” pungkasnya.
(Sya'ban)












