SAMPIT – Ketua Komisi I DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Angga Aditya Nugraha menilai tidak adanya sirkuit balap resmi membuat anak-anak muda menyalurkan hobinya balapan di jalan raya dengan risiko tinggi terhadap keselamatan.
Menurut Angga balapan liar kerap dilakukan tanpa perlengkapan memadai, seperti helm standar maupun pakaian balap.
Kondisi itu tidak hanya membahayakan pembalap, tetapi juga pengguna jalan lain yang bisa menjadi korban, petugas kepolisian sudah sering melakukan aksi razia namun aksi balap liar masih kerap muncul.
“Kalau ada sirkuit resmi, anak-anak muda bisa berlatih dan menyalurkan hobi di tempat yang aman. Tanpa itu, mereka akan terus mencari jalan pintas lewat balapan liar yang jelas-jelas berbahaya,” ujarnya, Rabu,1 Oktober 2025.
Ia menegaskan, keberadaan sirkuit penting bukan hanya dari sisi keselamatan, tetapi juga sebagai wadah pembinaan atlet otomotif. Dengan adanya arena latihan resmi, pembalap lokal dapat mengasah keterampilan secara profesional dan berpeluang bersaing di tingkat provinsi maupun nasional.
“Ini soal keselamatan dan prestasi. Kita ingin generasi muda tidak hanya hobi balapan, tapi juga bisa berkompetisi secara sehat dan membawa nama baik daerah,” lanjutnya.
Angga mendorong pemerintah daerah melanjutkan rencana pembangunan Sirkuit Sampit yang sebelumnya sudah digagas. Menurutnya, fasilitas berstandar nasional akan menjadi solusi nyata untuk mengurangi balapan liar sekaligus memacu perkembangan olahraga otomotif di Kotim.
Lebih jauh, ia mengusulkan agar pembangunan sirkuit nantinya dirancang multifungsi. Tidak hanya untuk kegiatan otomotif, tetapi juga bisa menjadi lokasi event, ruang UMKM, hingga tempat kegiatan masyarakat lainnya. Dengan begitu, fasilitas yang ada dapat hidup dan memberi dampak ekonomi.
Ia juga mengapresiasi upaya sementara pemerintah melalui Dinas Perhubungan dan pengelola Stadion 29 November yang memberikan ruang latihan meski belum ideal. Dukungan Dispora dan KONI Kotim pun dianggap penting dalam mengakomodasi kebutuhan anak muda di bidang otomotif.
“Namun solusi permanen tetap harus diwujudkan, yaitu menghadirkan sirkuit resmi. Kalau tidak, balapan liar akan terus terjadi dan risikonya bisa fatal,” tegas Angga.
Diharapkan dengan adanya sirkuit, anak-anak muda bisa aman, produktif, dan berprestasi. Kalau multifungsi, tentu akan lebih bermanfaat.
“Tapi kita juga harus melihat kemampuan anggaran daerah, karena adanya efisiensi anggaran dari pusat sehingga pemerintah harus memilah yang menjadi prioritas untuk masyarakat, apakah memungkinkan atau tidak, karena ada prioritas lain yang juga harus diperhatikan,” pungkasnya. (nardi)












