PALANGKA RAYA – Anggota Komisi I DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Yohanes Freddy Ering, menyoroti capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak air permukaan dan alat berat yang dinilai masih belum maksimal. Hingga awal tahun 2025, realisasi kedua instrumen pajak tersebut masih menghadapi kendala teknis dan regulasi di lapangan.
Freddy mengakui adanya celah yang membuat potensi pendapatan daerah belum terserap sepenuhnya.
“Itu memang terus terang saja memang belum optimal,” ujar Freddy Ering saat ditemui di Palangka Raya, Jumat, 23 Januari 2026.
Menurut legislator senior ini, kendala utama terletak pada infrastruktur pengawasan dan sistem koordinasi yang belum memadai. Luasnya wilayah Kalteng dengan sebaran Perusahaan Besar Swasta (PBS) yang masif menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah.
“Karena memang memerlukan sistem koordinasi sarana prasarana peralatan yang cukup. Karena memang yang namanya perusahaan, katakanlah PBS sawit di Kalteng itu kan banyak, khususnya yang PKS yang sudah ada pabriknya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Freddy menekankan pentingnya standarisasi dalam penghitungan konsumsi air oleh pihak korporasi. Selama ini, akurasi data penggunaan air permukaan masih menjadi perdebatan karena belum adanya acuan teknis yang seragam.
“Jadi ukuran-ukuran penggunaan air permukaan itu masih memerlukan regulasi aturan dan juga standar SOP dalam hal pengukurannya, penghitungannya,” tambahnya.
Salah satu solusi konkret yang sedang didorong adalah kewajiban penggunaan alat ukur elektronik. Freddy menyebut penggunaan Flow Meter (meteran arus) menjadi kunci agar penghitungan nilai pajak lebih transparan dan presisi.
“Antara lain juga penggunaan Flow Meter, artinya dengan menggunakan meteran khusus diperkirakan nilai ataupun penggunaan air permukaan itu bisa lebih terukur, lebih akurat,” kata Freddy.
Meski masih ada kendala, Freddy memberikan catatan positif terkait progres pemasangan alat ukur tersebut di sejumlah perusahaan. Saat ini, sebagian besar titik penggunaan air sudah mulai terpantau secara sistematis.
“Iya sudah (mulai terpasang), tinggal 20-an persen lah yang belum,” pungkasnya.
(Syauqi)











