Minim Perhatian, Kondisi Pasar PPM Sampit Semakin Sepi dan Terpuruk

NARDI/BERITASAMPIT - Kondisi Pasar PPM Sampit yang tampak memprihatinkan.

Di balik geliat Kota Sampit yang terus bergerak, sebuah pasar rakyat legendaris justru kian kehilangan denyutnya. Lorong-lorong yang dahulu dipenuhi tawar-menawar kini sunyi, banyak menyisakan kios-kios kosong, bau amis, dan genangan air. Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit perlahan meredup, tergerus waktu, minim perhatian, dan lemahnya penataan, sementara para pedagang bertahan di tengah sepinya harapan.

Ahmad Winardi, Sampit

HENTAK langkah pembeli yang dulu ramai kini nyaris tak terdengar di Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit. Pasar Sampit legendaris yang sejak dulu menjadi denyut nadi ekonomi rakyat, Kabupaten Timur (Kotim) itu kini kian terpuruk.

Lantai becek bercampur genangan air menyambut setiap langkah. Keramik lantai terkelupas, lorong pasar yang lembap, dan aroma amis ikan bercampur bau sampah menyengat hidung sudah menjadi penyambut pengunjung yang datang.

Pemandangan kumuh dan sumpek seolah menjadi wajah baru untuk PPM Sampit. Ironis, mengingat pasar ini pernah disinggahi orang nomor satu di Indonesia waktu itu, Presiden RI Joko Widodo, pada Juni 2024 lalu.

Kondisi memprihatinkan itu perlahan menggerus kepercayaan pembeli. Pelanggan rumah tangga satu per satu memilih beralih ke pasar lain di Sampit yang dinilai lebih bersih dan maupun pedagang pinggir jalan yang mudah diakses.

Dampaknya terasa langsung ke kantong pedagang. Penjualan merosot, kios-kios resmi di dalam pasar banyak yang tutup, sementara denyut transaksi justru bergeser ke luar area pasar.

Maraknya pedagang yang berjualan di badan jalan dan kawasan sekitar PPM semakin memperparah keadaan. Lapak-lapak di luar pasar terlihat ramai, berbanding terbalik dengan deretan los kosong di dalam. Fungsi pasar sebagai pusat transaksi kian memudar, meninggalkan keluhan yang menumpuk di kalangan pedagang resmi.

“Sekarang semakin sepi, apalagi kami yang bagian dalam, tentu sudah kalah dengan pedagang di luar. Di dalam ini los banyak juga yang kosong,” keluh Juan, pedagang di Pasar PPM Selasa 24 Februari 2026.

Ia menyebut dampak ekonomi yang dirasakan sangat besar. Sejak pedagang luar pasar semakin menjamur, pendapatan mereka terjun bebas.

“Penghasilan kami turun hampir 70 persen. Bisa dibilang tinggal 30 persen saja yang tersisa. Pembeli rumah tangga jarang masuk pasar sekarang. Yang datang paling dari kebun atau kapal bongkar muat,” ujarnya lirih.

Nada serupa disampaikan Asih, pedagang yang telah menggantungkan hidup di PPM sejak 2001. Ia merasakan betul perbedaan denyut pasar dulu dan sekarang.

“Dulu pasar selalu ramai. Pembeli berdatangan, perputaran uang jalan. Sekarang sepi. Pasar ini hampir tidak berfungsi lagi. Lihat sendiri, banyak kios kosong. Bahkan bisa main bola saking kosongnya,” ungkapnya.

Pedangan menyayangkan belum adanya ketegasan pemerintah daerah dalam menata kembali pasar. Selama ini hanya janji-janji semata yang diucapkan tidak sesuai dengan realita.

Penertiban pedagang liar dan pengaktifan los kosong seharusnya menjadi prioritas, begitu pula pembenahan fasilitas yang ada untuk kenyamanan pengunjung.

“Kami ini pedagang resmi, punya lapak resmi. Harusnya yang di luar itu dimasukkan ke dalam pasar. Ditata ulang. Kalau terus dibiarkan, pasar mati pelan-pelan,” tegasnya.

Hanya satu yang dinanti pedangan selama ini, solusi kreatif dari pemerintah agar mampu menarik kembali minat para pengunjung ke PPM Sampit, bukan hanya janji-janji semata.

Begitu pula lantai dua yang menjadi lapak khusus penjualan baju, sudah kalah bersaing dengan toko serba yang lebih murah dan mudah dijangkau, bahkan harus bersaing dengan toko online yang memanfaatkan pemasaran secara modern.

Lesunya PPM Sampit juga diperparah persoalan kebersihan. Pengelolaan sampah dan limbah yang buruk membuat bau tak sedap menjadi keluhan utama warga. Area pasar ikan disebut sebagai titik terparah, dengan genangan air dan aroma amis yang sulit dihindari. Tak sedikit warga yang akhirnya enggan masuk pasar.

Bahkan sampai sempat menggunung selama satu bulan dilelukan pedagang maupun pengunjung. Hingga sebuah video viral akhirnya menggerakkan pemerintah untuk segera membersihkannya.

Di sisi lain, praktik pungutan liar sempat mencuat. Tarif parkir kendaraan roda empat yang dipatok hingga Rp10 ribu oleh oknum tak bertanggung jawab menjadi cerita yang masih membekas di ingatan masyarakat. Lemahnya pengawasan membuat praktik-praktik semacam ini mudah terjadi.

Di tengah keterpurukan itu, hanya sektor emas yang relatif bertahan. Toko-toko emas di PPM masih tampak ramai. Budaya masyarakat Sampit yang menjadikan emas sebagai instrumen investasi dan tabungan membuat transaksi tetap bergulir, terlebih saat harga emas berfluktuasi.

Namun secara umum, kerusakan fasilitas, mulai dari area parkir berlubang, genangan air di pintu masuk pasar ikan, hingga selasar yang jarang dibersihkan, terus memperburuk citra pasar. Jika tak segera ditangani, PPM Sampit dikhawatirkan semakin kehilangan perannya sebagai pusat ekonomi rakyat.

Para pedagang kini hanya bisa berharap. Mereka menanti langkah nyata pemerintah daerah untuk menata ulang pasar secara menyeluruh, menertibkan pedagang liar, memperbaiki fasilitas, mengaktifkan kembali los kosong, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pedagang resmi.

Harapan itu sederhana agar Pasar PPM Sampit kembali hidup, kembali ramai, dan kembali menjadi denyut nadi ekonomi warga. (Nardi)

baca juga ...  Kabut Asap, Jarak Pandang Hanya Mencapai 20 Meter
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!