SAMPIT – Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyampaikan sejumlah pekerjaan rumah (PR) kepada Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan yang baru, Muslih. Harapannya, kepemimpinan baru mampu membawa pembenahan terhadap pengelolaan pasar tradisional di daerah.
Ketua Komisi II DPRD Kotim Akhyannoor menyampaikan selamat atas Sertijab Plt kadis yang baru diharapkan dapat bekerja dengan baik serta membangun kolaborasi bersama DPRD sebagai mitra kerja.
Keterbukaan dinilai penting, terutama dalam menyikapi berbagai keluhan masyarakat di lapangan. “Kami ingin ada sinergi. Kalau ada kegiatan atau fungsi pengawasan, DPRD bisa diberitahukan dan dilibatkan,” tegasnya, Selasa 3 Maret 2026.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada kepala dinas sebelumnya Johny Tangkere atas pengabdian yang telah diberikan. Perhatian terhadap kondisi pasar tetap menjadi prioritas. Pasar PPM Sampit, Pasar Parenggean, Pasar Pelangsian Pasar Samuda dan pasta lainnya disebut harus terus didorong agar berkembang dan benar-benar menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Menurut Komisi II, kondisi sejumlah pasar saat ini dinilai belum optimal. Bahkan diibaratkan “hidup segan mati tak mau”. Karena itu, diperlukan langkah konkret agar pasar tradisional bisa lebih maju dan memberikan dampak nyata bagi pedagang kecil.
Terkait wacana pengelolaan pasar melalui BUMD atau Perumda, DPRD menilai hal tersebut bisa dilakukan namun dengan catatan manajemen yang profesional dan tata kelola yang baik.
Mereka mengingatkan, persoalan utama bukan semata pada siapa yang mengelola, melainkan bagaimana sistem pengelolaannya dijalankan. Jika manajemen tidak tepat dan keuangan tidak tertata, maka potensi kerugian bisa saja terjadi.
“Jangan sampai habis modalnya saja mengelola tapi juga tidak maju-maju,” tegas Politisi Gerindra ini.
Komisi II juga menyoroti ketatnya persaingan dengan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret, termasuk toko serba Rp35 ribu yang kerap menawarkan potongan harga besar saat hari-hari besar.
“Sudah tempatnya lebih nyaman, kemudian sering diskon maka masyarakat lebih tertarik belanja disana dibanding ke pasar tradisional, itu yang harus dipikirkan oleh pemerintah,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat konsumen lebih tertarik berbelanja di tempat yang nyaman dan menawarkan diskon menarik. Jika pasar tradisional tidak mampu beradaptasi, maka daya saing akan semakin tergerus.
“Persaingan ke depan makin terbuka. Pasar bebas sudah berjalan. Jadi kuncinya tetap pada manajemen pengelolanya, baik itu oleh dinas maupun Perumda,” ujarnya.
DPRD berharap Plt kadis yang baru dapat bersinergi dengan legislatif sebagai pengawasan di lapangan. Dengan komunikasi yang terbuka dan kerja sama yang solid, diharapkan pasar-pasar di Kotim dapat tumbuh dan menjadi pusat ekonomi rakyat yang lebih kuat. (nardi)












