Harga Plastik Melonjak Hingga 100 Persen, Pedagang di Kotim Mengeluh

NARDI/BERITASAMPIT - Pemkab Kotim saat sidak harga plastik di Pasar PPM Sampit.

SAMPIT – Kenaikan harga plastik hingga dua kali lipat terjadi di Pasar PPM Sampit, Kabupaten (Kotim), Jumat 10 April 2026. Lonjakan ini dikeluhkan pedagang karena berdampak langsung terhadap biaya usaha, terutama bagi pelaku UMKM yang bergantung pada kemasan plastik.

Di lapangan, harga berbagai jenis plastik mengalami peningkatan signifikan. Salah satu pedagang, Rita, mengungkapkan bahwa harga plastik yang sebelumnya Rp10 ribu kini naik menjadi Rp20 ribu, rata-rata naik 100 persen.

“Dari distributor sudah naik. Plastik kiloan ukuran besar yang biasanya Rp25 ribu sampai Rp30 ribu sekarang jadi Rp50 ribu. Naiknya dua kali lipat,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan tidak hanya terjadi pada satu jenis. Plastik ukuran besar seperti 35 cm hingga 40 cm mengalami lonjakan paling tinggi. Sementara itu, plastik gula naik dari Rp38 ribu menjadi Rp58 ribu.

“Ukuran kecil juga ikut naik, rata-rata sekitar Rp2ribu – Rp4 ribu. Plastik kemasan dari Rp22 ribu sekarang jadi Rp26 ribu sampai Rp27 ribu,” tambahnya.

Ia menyebutkan kenaikan harga plastik dipengaruhi situasi global, termasuk konflik yang berdampak pada sektor minyak dunia. Hal itu berimbas pada produksi bahan baku plastik. Kondisi ini membuat pedagang harus mengatur strategi agar tidak merugi.

“Situasi perang itu berpengaruh ke ekonomi. Harga plastik naik, omzet kami juga ikut turun,” katanya.

Arel, pedagang plastik yang sudah 25 tahun berjualan, mengatakan kenaikan ini mulai terasa sejak pertengahan Ramadan dan terus berlanjut hingga sekarang.

“Kenaikannya bertahap, tapi sekarang tinggi sekali. Ini bukan sekadar naik, tapi sudah seperti ganti harga,” ujarnya.

Plastik cup minuman juga melonjak dari Rp320 ribu per dus menjadi Rp465 ribu. Kondisi ini membuat pedagang harus mengeluarkan modal jauh lebih besar.

Dampak kenaikan ini langsung dirasakan pelaku usaha. Sejumlah pedagang makanan dan minuman terpaksa menyesuaikan harga jual untuk menutupi biaya tambahan dari kemasan plastik.

Salah satu pengusaha kafe di Sampit mengaku harus menaikkan harga minuman cup. “Kami terpaksa naikkan harga, karena biaya plastik cukup tinggi sekarang,” katanya.

Hal serupa disampaikan pedagang es. Mereka menaikkan harga jual akibat lonjakan biaya kemasan. “Es yang biasanya Rp1.000 sekarang jadi Rp2.000. Kalau pentol tidak naik, hanya plastik es saja yang naik,” ujar seorang pedagang pentol keliling.

Sebagian pedagang kini memilih membatasi stok barang karena khawatir harga terus berubah. Selain itu, pelaku usaha kecil juga mulai mengurangi produksi untuk menekan biaya. (Nardi)

baca juga ...  Pria di Kotim Pura-Pura Jadi Korban Begal Gara-gara Takut Ketahuan Istri Gadaikan Handphone
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!