SAMPIT – Banjir yang berulang di sejumlah titik di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sepanjang April – Mei 2026, genangan air beberapa kali merendam ruas jalan dan kawasan permukiman saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kota.
Di tengah keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi, Pemerintah Kabupaten Kotim mengakui belum mampu melakukan pembangunan drainase berskala besar secara menyeluruh. Padahal, penanganan sistem drainase dinilai menjadi solusi utama untuk mengurangi banjir yang terus terjadi.
Wakil Bupati Kotim Irawati berharap anggota DPRD kabupaten maupun provinsi dapat mengalokasikan program pokok pikiran (pokir) untuk mendukung pembenahan drainase di kawasan perkotaan. Menurutnya, kebutuhan pembangunan saluran air saat ini jauh lebih mendesak dibandingkan pembangunan infrastruktur lingkungan lainnya.
“Yang paling utama saat ini adalah penanganan drainase di wilayah kota terlebih dahulu,” ujarnya Rabu 20 Mei 2026.
Ia menilai pembangunan jalan gang dan lingkungan yang selama ini banyak dilakukan akan kurang efektif apabila saluran drainase di sekitarnya tidak berfungsi dengan baik. Kondisi tersebut menyebabkan jalan yang telah diperbaiki kembali rusak karena terendam air saat hujan.
“Selama ini anggota dewan banyak membantu perbaikan gang-gang. Tetapi kalau drainasenya tidak lancar, tetap terendam dan akhirnya jalan yang sudah dibangun juga cepat rusak,” katanya.
Untuk penanganan jangka panjang, Irawati menginginkan pembangunan drainase besar seperti yang telah diterapkan di ruas Jalan Ahmad Yani dan Jalan MT Haryono. Menurutnya, sistem tersebut terbukti lebih mampu menampung dan mengalirkan debit air saat hujan deras.
“Kalau saya inginnya dibuat drainase seperti di Jalan Ahmad Yani dan Jalan MT Haryono. Kalau tidak seperti itu, banjir akan terus berulang,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengakui pembangunan drainase dengan skala besar membutuhkan biaya yang cukup besar, sementara kemampuan anggaran daerah saat ini masih terbatas. Karena itu, dukungan melalui pokir anggota dewan dinilai dapat menjadi salah satu solusi percepatan penanganan.
“Tentu membutuhkan anggaran besar. Mudah-mudahan anggota dewan bisa membantu melalui pokir yang mereka miliki,” tuturnya.
Selain pembangunan infrastruktur, Irawati juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, saluran air yang tersumbat sampah menjadi salah satu penyebab utama air tidak mengalir dengan lancar saat hujan turun.
“Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan juga menyebabkan saluran air tersumbat sehingga air tidak bisa mengalir dengan baik,” pungkasnya. (Nardi)











