Harga Sawit Terjun Bebas, Petani Kotim Menjerit di Tengah Mahalnya Pupuk dan Solar

UTOMO/BERITA SAMPIT - Ilustrasi.

SAMPIT – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten (Kotim) anjlok drastis dalam dua hari terakhir. Kondisi ini membuat para petani dan pengepul terpukul, terlebih di tengah tingginya harga pupuk dan solar yang terus membebani biaya operasional.

Salah seorang petani di Kecamatan Mentaya Hulu, Sapri, mengungkapkan bahwa harga sawit saat ini hanya dibeli pengepul sekitar Rp1.250 per kilogram. Angka tersebut turun tajam dibanding harga sebelumnya yang sempat mencapai Rp2.400 per kilogram.

“Hari ini turunnya drasti sampai Rp1.000 per kilogram. Pengepul membeli dengan harga Rp1.250,” kata Sapri pada Jum'at 22 Mei 2026.

Menurutnya kondisi ini berbanding terbalik dengan kenaikan harga pupuk dan kebutuhan pokok yang meningkat. Kondisi ini tentu menjadi tekanan ekonomi yang berat bagi para petani.

“Kami merasa sangat berat, apalagi kebutuhan meningkat sementara pendapatan turun drastis,” keluhnya.

Senada dengan itu, Edy Rujito petani lainnya mengaku tak bisa berbuat banyak. Menurutnya, meskipun harga rendah, sebagian petani tetap harus menjual hasil panen karena membutuhkan uang.

“Mau tidak mau tetap dijual. Kalau ditahan juga tidak mungkin, karena kami punya kebutuhan,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang pengepul kelapa sawit di Kecamatan Pulau Hanaut, Kotim, menyebut bahwa dirinya membeli harga sawit dengan harga Rp1.250 ribu dan pabrik kelapa sawit (PKS) menerima dengan harga Rp1.400 ribu per kilogram.

“Hari ini saya membeli dengan harga Rp1.240 dan pks menerima Rp1.400,” jelasnya.

Yono menyebut kondisi ini sangat membebani para pengepul kelapa sawit ditengah mahalnya harga solar yang jadi salah satu kebutuhan terpenting untuk kebutuhan operasional.

“Harga solar mahal. Harga sawit turun, berat sekali,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, para petani dan pengepul kelapa sawit mengeluhkan turunnya harga tbs dan meningkatnya harga pupuk serta solar. Petani dan pengepul berharap pihak berwenang segera turun tangan untuk mengatasi masalah tersebut.

Para petani berharap setidaknya ada satu kelonggaran: harga sawit, mulai merangkak naik, atau pemerintah memberikan akses solar dengan harga lebih terjangkau untuk usaha perkebunan rakyat.

(Utomo)

baca juga ...  Rimbun Desak Pemkab Benahi Drainase di Jalur Tjilik Riwut–PJU Nur Mentaya
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!