Penulis: Maman Wiharja (Jurnalis Senior di Kalteng)
JELANG minggu kedua bulan Mei 2026 hingga kini, Kalteng dihebohkan oleh berita viral tentang munculnya Jalan “Jalur Biru” di Kota Palangka Raya. Selain para nitizen tiktok, facebook, Instragram, yang mempertanyakan jalan “Jalur Biru”, menyusul berita pun dari sejumlah media online dan cetak, dengan berbagai versi “bak api menyulut jerami” bermunculan.
Bahkan, orang nomor satu di Kalteng yakni Gubernur H. Agustiar Sabran, dengan munculnya berbagai kritikan, terhadap jalur jalan warna biru tersebut mengaku paling kecewa, terhadap hasil proyek tersebut dan mengultimatum terhadap proyek JJB dengan 2 Opsi, Dilanjutkan atau Dihentikan.
Pengamatan penulis memang benar, untuk menggoreskan sebuah karya program pembangunan di berbagai Ibu Kota di Indonesia, tidak semudah membalikan telapak tangan, pasti akan menuai kritik tentunya perlu perjuangan dan mental yang kuat.
Seperti dulu sekitar tahun 2004 – 2006 , Pemda DKI Jakarta membangun Jalan Jalur Biru 2 lajur untuk Jalan Busway (Trans Jakarta) langsung mendapat kritikan keras dari sejumlah warga. Banyak kritikan katanya jalan di Kota Jakarta semakin macet, banyak jalan umum yang diambil, proyeknya dipaksakan.
Bahkan ada kritikan yang cukup ‘miris', pembangunan dikebut cuma beberapa bulan. Hasilnya halte kurang nyaman, feeder belum ada, integrasi jelek. Banyak yang bilang ini proyek politis Sutiyoso buat pencitraan.
Namun setahun kemudian, setelah jalan jalur biru yang dibuat 2 lajur lancer, khusus untuk Busway yang armadanya terus ditambah, dan semua halte bus diperbaiki. Masyarakat Jakarta, mulai merasakan manfaatnya dengan dibangunnya Jalur Jalan Biru. Bahkan, sampai sekarang pembangunan Jalan Jalur Biru 2 lajur di Jakarta, disanjung mendapat pujian terpanjang di dunia mencapai 230,9 Km.
Adalah Kadis PUPR Kalteng Prof. Dr. Dr. Dr. Ir. Juni Gultom sebagai penggagas pembangunan Jalan Jalur Biru (JJB). Menurut penulis Juni Gultom bukanlah pejabat “kalengan”, karena di Provinsi Kalteng sebut saja hanya Juni Gultom boleh dikatakan jejak karier ilmunya dalam bidang pembangunan untuk daerah cukup tinggi. Buktinya telah meraih berbagai gelar yakni gelar Profesor, tiga gelar Doktor, satu gelar Insinyur, satu gelar MT, dan satu lagi MP.
Artinya Juni Gultom, dalam menggagas salah satu programnya tidak asal-asalan. Seperti halnya membangun JJB, beliau sebelum JJB dibangun telah membeberkan keberbagai media cetak dan online maksud dan tujuan membangun JJB.
Kalau hanya gara-gara Cat Warna Biru di JJB mengelupas, kemudian menuai kritikan dan krtikannya dibesar-besarkan oleh media, menurut penulis, justru kritikan inilah yang perlu diambil hikmahnya, misal kalau pembangunan JJB dilanjutkan, ingat catnya harus yang berkualitas jangan cat kalengan, seperti untuk ngecat pinggiran trotoar jalan raya, baru seminggu saja warnanya sudah “belel“.
Kemudian, alangkah baiknya kalau pengecatan seluruh JJB melibatkan sejumlah ormas kepemudaan, yang nantinya setiap kilometer pada titik tertentu di JJB dibangun pula semacam ‘Halte‘ yang permanen untuk menjual berbagai minuman/kopi/es crame dan makanan cemilan, yang berjualan juga harus dari ormas kepemudaan, agar mereka memiliki kebanggaan tersendiri.
Mari kita, ambil hikmahnya bahwa munculnya berbagai kritikan untuk menjadi sebuah kajian yang penuh bijak dari berbagai pihak, SEMOGA.(*)












