PALANGKA RAYA – Kenaikan harga BBM jenis Pertamax menjadi Rp 16.650 per liter di Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai dirasakan kalangan mahasiswa yang merantau di Kota Palangka Raya.
Mahasiswa asal Kabupaten Seruyan, Hidayatullah (21), mengaku kenaikan harga Pertamax cukup memengaruhi pengeluaran bulanannya, terutama karena ia rutin menggunakan BBM tersebut untuk kendaraan sehari-hari.
“Sangat berdampak, apalagi bagi kami yang mau pulang kampung harus mengisi Pertamax penuh. Jadi sangat berdampak,” katanya saat ditemui Berita Sampit di SPBU Jalan G. Obos, Rabu sore, 10 Juni 2026.
Menurut Hidayatullah, biaya pengisian bahan bakar kini meningkat dibandingkan sebelumnya.
“Biasanya isi penuh Pertamax hanya Rp35 ribu, kalau benar-benar habis sekitar Rp45 ribu. Sekarang ngisinya bisa Rp60 ribu, sangat berdampak,” ujarnya.
Ia mengaku tetap menggunakan Pertamax meski harganya naik karena khawatir penggunaan BBM lain dapat memengaruhi performa mesin kendaraannya.
“Takut campur-campur. Apalagi motor saya matic dan dari awal memang pakai Pertamax,” tuturnya.
Sebagai mahasiswa perantauan yang mengandalkan kiriman orang tua, ia berharap kondisi ekonomi segera membaik agar beban masyarakat tidak semakin berat.
“Apalagi saya mahasiswa, uang bulanan dari orang tua juga tidak banyak. Pesannya untuk pemerintah, semoga kondisi segera pulih,” katanya.
Sementara itu, mahasiswa asal Palangka Raya, Ari (20), juga mengaku terkejut dengan kenaikan harga Pertamax yang cukup signifikan dari sebelumnya Rp 12.600 per liter menjadi Rp 16.650 per liter.
“Merasa kaget, dari yang sebelumnya Rp 12.600 kini mencapai Rp 16.650 per liter,” ujarnya saat ditemui Berita Sampit di SPBU Jalan Imam Bonjol, Rabu sore.
Meski demikian, Ari belum berencana beralih ke Pertalite karena khawatir penggunaan BBM dengan spesifikasi berbeda dapat memengaruhi kondisi mesin kendaraannya.
“Karena motor ini biasanya isi Pertamax. Kalau diganti Pertalite takutnya ada apa-apa pada mesin. Pertalite itu RON 90, sedangkan Pertamax RON 92, itu yang menjadi pertimbangan,” jelasnya.
Menurut Ari, kenaikan harga tersebut untuk sementara waktu belum terlalu membebani dirinya.
“Untuk sementara dengan kenaikan ini tidak memberatkan. Kita mengikuti saja, kalau naik ikut, kalau turun ikut. Ikut kebijakan pemerintah saja,” katanya.
Pantauan Berita Sampit, Rabu sore, di sejumlah SPBU, seperti SPBU Jalan Imam Bonjol, Jalan RTA Milono, Jalan G. Obos, dan Jalan Yos Sudarso, menunjukkan aktivitas pengisian BBM masih berlangsung normal tanpa antrean panjang.
Untuk pengisian Pertamax, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat rata-rata hanya berkisar dua hingga delapan unit. Sementara antrean Pertalite juga terpantau normal dan tidak terjadi penumpukan kendaraan.
Meski Pertamax mengalami kenaikan, harga BBM subsidi tidak berubah. Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.
Sementara itu, harga BBM nonsubsidi lainnya juga masih bertahan, yakni Pertamax Turbo Rp 21.200 per liter, Dexlite Rp 23.500 per liter, dan Pertamina Dex Rp 25.350 per liter.
(Sya'ban)












