Oleh: Selamat Purwanto, Pegiat Desa, Agrobis, Pemerhati Sosial dan Budaya.
KESEPAKATAN dalam musyawarah tak dibiarkan menguap menjadi sekadar wacana. Warga UPT Kandan sepakat untuk langsung bergerak. Ketua RW, Prayitno, ditunjuk sebagai koordinator lapangan memegang kendali mulai dari perburuan material hingga teknis pemasangan jembatan.
Bagi warga setempat, keterbatasan dana bukanlah alasan untuk pasrah. Mereka memilih memanfaatkan sumber daya yang melimpah di sekitar desa, bertumpu pada napas gotong royong yang telah menjadi warisan leluhur.
Hari pertama menjadi ujian terberat. Sejak matahari baru terbit, puluhan warga sudah menembus lebatnya kawasan hutan. Berbekal mesin gergaji rantai (chainsaw), mereka memburu kayu-kayu pilihan yang terkenal tangguh untuk menjadi tulang punggung jembatan.
Tugas belum usai setelah pohon-pohon besar menumbuk tanah. Batang-batang kayu yang dipotong menjadi gelondongan itu harus dihanyutkan melalui aliran parit cara cerdik untuk menghemat tenaga hingga sampai ke titik pengangkutan. Dari sana, kayu dinaikkan ke atas truk dan diangkut menuju Jalan Haruei. Hari itu, peluh yang bercampur lumpur menjadi saksi ketangguhan warga demi menghadirkan akses yang lebih aman.
Memasuki hari kedua, bahan baku mulai diolah. Bunyi raungan mesin dan deru kerja membahana, kayu gelondongan dibelah menjadi balok-balok penyangga dan papan lantai jembatan. Warga yang tidak memegang mesin sibuk menyiapkan paku, baut, linggis, dan palu.
Suasana kebersamaan begitu kental. Tak ada sekat status sosial, petani, buruh, pemuda, tokoh masyarakat, hingga kalangan tua bekerja bahu-membahu. Sebagian mengangkat kayu, sebagian memotong dan mengukur rangka, sementara yang lain sibuk menyiapkan hidangan untuk menjaga stamina para pekerja.
Hari ketiga menjadi puncak penentuan. Sejak siang, warga menyemut di lokasi jembatan pertama titik dengan kerusakan paling parah. Sebagian membongkar papan lama yang lapuk dan lapuk, sementara sebagian lagi mulai menyusun balok penyangga baru, mengencangkan baut, dan memperkuat struktur rangka.
Menjelang Magrib, dentang palu rehat sejenak. Warga beristirahat, menunaikan salat Magrib dan Isya, lalu menikmati makan malam sederhana yang disajikan secara gotong royong.
Namun, malam tak menyurutkan langkah. Usai beribadah, pekerjaan kembali dilanjutkan. Di bawah temaram lampu kendaraan, sorot senter, dan penerangan seadanya, suara palu kembali bersahut-sahutan memecah keheningan malam. Rasa lelah yang menggayut di tubuh dikalahkan oleh tekad bersama: tidak ada yang pulang sebelum jembatan ini rampung.Menjelang larut malam, papan terakhir berhasil terpaku dengan presisi.
Gelak tawa dan napas lega membuncah, warga saling berjabat tangan penuh haru saat kendaraan pertama perlahan melintas dengan aman di atas jembatan baru. Kelelahan fisik selama tiga hari terbayar tuntas oleh rasa puas melihat urat nadi desa kembali berfungsi.
“Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?”Di balik keberhasilan ini, sosok Prayitno berdiri paling depan. Ketua RW UPT Kandan ini tak sekadar memberi komando, tetapi ikut berpeluh mengangkat kayu, mengayunkan palu, dan berbaur di tengah lumpur sejak musyawarah awal hingga paku terakhir terpasang.
Bagi Prayitno, aksi swadaya ini lahir dari rasa memiliki yang mendalam terhadap tanah kelahiran. “Kita tidak perlu bertanya lagi ini jalan dan jembatan tanggung jawab siapa. Yang jelas, kita yang tinggal di sini, kita yang setiap hari menggunakannya. Berarti kita juga yang harus memikirkan supaya tetap baik,” ujarnya tegas.
Ia meluruskan bahwa gerakan ini bukan bentuk pengambilalihan peran pemerintah, melainkan bukti nyata kemandirian dan kepedulian warga.
“Kalau bukan kita warga sini, siapa lagi? Kita tetap mengharapkan perhatian pemerintah. Tetapi kita ingin membuktikan dulu bahwa masyarakat mampu berbuat sesuai kemampuan yang dimiliki. Jangan hanya menunggu sementara jalan yang kita lewati setiap hari semakin rusak.” bebernya.
Prayitno mengaku tersentuh melihat antusiasme masyarakatnya. Semua bergerak sesuai peran dan kapasitas masing-masing ada yang menyumbang uang, menyediakan armada angkut, membawa alat kerja, hingga yang mendonasikan tenaga dari pagi hingga larut malam.
“Alhamdulillah, semangat kebersamaan warga luar biasa. Inilah kekuatan terbesar yang dimiliki masyarakat UPT Kandan. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan hari ini menjadi awal bagi pembangunan yang lebih baik ke depan,” pungkasnya.
Apresiasi Pemerintah Desa
Kepala Desa Kandan, Agus Prawito, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif warga yang berhasil merawat roh gotong royong di tengah kemajuan zaman. Ia menegaskan, aksi ini murni lahir dari hasil musyawarah mufakat dan telah berkoordinasi dengan pihak desa tanpa ada unsur paksaan.
“Kami sangat mengapresiasi kepedulian masyarakat. Swadaya ini menunjukkan bahwa budaya gotong royong masih hidup. Pemerintah desa tentu mendukung setiap upaya masyarakat yang bertujuan menjaga kepentingan bersama, terutama akses jalan dan jembatan yang menjadi kebutuhan utama warga,” kata Kepala Desa.
Agus berharap, pesan moral dari aksi berskala lokal ini dapat bergaung lebih jauh hingga ke tingkat pemerintah yang lebih tinggi. “Semoga apa yang dilakukan masyarakat hari ini menjadi contoh bahwa warga memiliki kepedulian tinggi terhadap pembangunan. Harapan kami, ke depan Jalan Haruei beserta jembatan-jembatannya dapat ditingkatkan secara permanen sehingga mampu menunjang aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Jembatan yang Menghubungkan Harapan
Bagi orang luar, bentangan kayu itu mungkin hanya jembatan sederhana di ceruk pelosok desa. Namun bagi masyarakat UPT Kandan, jembatan tersebut adalah penopang napas kehidupan.
Di atas bilah-bilah kayu itulah anak-anak melangkah menuju sekolah, petani mengangkut hasil bumi, buruh menuju tempat kerja, pedagang menjemput rezeki, hingga tenaga kesehatan memberikan pelayanan. Semua menggantungkan asa pada pijakan yang sama.
Aksi swadaya ini menegaskan bahwa gotong royong bukan fosil sejarah, melainkan kekuatan hidup warga desa. Mereka menolak berpangku tangan meratapi keterbatasan; mereka memilih bergandengan tangan untuk mencari jalan keluar. Warga sadar, tindakan ini bukanlah pengganti kewajiban pemerintah, melainkan bentuk ikhtiar menjaga fasilitas publik sembari menanti pembangunan permanen.Kini, satu jembatan telah kokoh berdiri.
Masih ada dua jembatan lain yang membutuhkan sentuhan tangan, serta ruas Jalan Haruei yang merindukan perbaikan. Namun, warga percaya, langkah kecil yang diayunkan bersama akan menjadi pondasi kuat bagi kemajuan yang lebih besar.
Di UPT Kandan, gotong royong bukan sekadar tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia adalah denyut nadi yang menjaga akses kehidupan tetap terbuka, menyatukan ikatan harapan, dan menjadi jembatan kokoh menuju masa depan yang lebih baik.***












