PULANG PISAU – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kabupaten Pulang Pisau mulai terlihat pada sektor kesehatan. Dalam dua pekan terakhir, jumlah pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mendapatkan pelayanan di RSUD Pulang Pisau mengalami kenaikan sekitar 5 hingga 10 persen, dengan peningkatan paling banyak terjadi pada pasien anak-anak.
Direktur RSUD Pulang Pisau, dr. Muliyanto Budihardjo, mengatakan kenaikan kunjungan pasien tersebut berlangsung bersamaan dengan kondisi udara yang terdampak asap karhutla. Menurutnya, kelompok anak-anak menjadi yang paling banyak mengalami keluhan karena saluran pernapasan mereka relatif lebih sensitif terhadap paparan asap dan partikel hasil pembakaran.
“Dalam dua minggu terakhir memang ada peningkatan pasien ISPA sekitar 5 sampai 10 persen. Yang cukup banyak adalah pasien anak-anak. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama ketika terjadi karhutla dan kualitas udara menurun,” ujar dr. Muliyanto, Rabu 12 Agustus 2026.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari masih berlangsungnya penanganan karhutla di wilayah Pulang Pisau, termasuk kawasan Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, yang mengalami kebakaran lahan gambut sejak 2 Juli 2026. Penanganan di lapangan dilakukan secara bersama oleh berbagai unsur, sementara kondisi cuaca panas, angin dan karakteristik lahan gambut menjadi tantangan dalam proses pemadaman serta pendinginan.
Dr. Muliyanto menjelaskan, asap kebakaran dapat membawa partikel dan zat iritan yang masuk ke saluran pernapasan. Paparan tersebut dapat menimbulkan keluhan seperti batuk, pilek, tenggorokan terasa perih, sesak atau napas berbunyi, terutama pada anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki kondisi saluran pernapasan sensitif. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap ringan gangguan pernapasan yang muncul ketika kabut asap terjadi.
Untuk mengurangi risiko ISPA, ia mengimbau masyarakat Pulang Pisau membatasi aktivitas di luar rumah ketika asap sedang pekat, terutama anak-anak. Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker yang sesuai, menghindari lokasi dengan kepulan asap langsung, memperbanyak konsumsi air putih serta menjaga kebersihan tangan dan lingkungan. Orang tua juga diminta tidak membawa anak bermain di luar rumah ketika kualitas udara sedang buruk.
“Kalau muncul keluhan seperti batuk yang tidak membaik, sesak napas, napas cepat, demam atau kondisi anak terlihat lemah, jangan ditunda untuk mendapatkan pemeriksaan. Segera datang ke fasilitas pelayanan kesehatan agar bisa diketahui penyebab dan ditangani lebih awal,” pesan dr. Muliyanto. Ia menambahkan, pencegahan selama kondisi karhutla masih terjadi menjadi langkah penting untuk melindungi kelompok rentan sekaligus mencegah gangguan pernapasan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. (denny)











