Penulis: Maman Wiharja (Jurnalis Senior di Kobar)
MUSIM KEMARAU tahun lalu masyarakat di Kalimantan Tengah (Kalteng) termasuk Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), merasa terbantu oleh hujan buatan yang turun deras.
Pada musim kemarau 2026 cuaca semakin panas menyengat, dampaknya di Wilayah Kalteng ribuan titik api melalap area hutan dan lahan , bahkan di Kabupaten Kobar. Hingga 18 Agustus 2026, BPBD Kotawaringin Barat mencatat ada 461 titik panas (hotspot) dengan 189 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) . Total luas lahan yang terbakar mencapai 859,49 hektare.
Hasil pantauan penulis, banyak masyarakat bertanya-tanya “Kemarau semakin panas, Indonesia sudah siaga karhutla. Kenapa tidak ada hujan buatan ?“.
Ada juga yang mengatakan, kenapa Presiden Prabowo, tidak mengintruksikan mengerahkan Pesawat TNI AU untuk membuat “Hujan Buatan“, bersama BMKG, BPPT dan BNPB.
Dari berbagai sumber mengatakan, tidak ada hujan buatan karena cuaca di langit tidak ada awan yang potensial.
Pengamatan penulis, membuat hujan buatan, tidak semudah membalikan telapak tangan, banyak proses yang harus dikerjakan.
Intinya di atas langit harus banyak awan yang potensial, kalau tidak ada awan atau langit cerah, biarpun disemai 100x juga nggak bakalan hujan, buang-buang biaya 1 x sortie/terbang pakai Pesawat CN-235 bisa menghabiskan biaya Rp200 juta – Rp500 juta.
Sekedar untuk pengetahuan, hujan buatan/TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca), untuk mengakali awan agar hujan lebih cepat, bahan bakunya hujan buatan adalah “Garam“ NaCI (Bukan Garam Dapur). Nanti uap air nempel ke garam jadi titik air paling murah, ramah lingkungan.
1x terbang bisa 1-2 TonCaCl2, prosesnya kalsium klorida nyerap air lebih kuat dari garam, digunakan kalau awannya tipis Higroskopis AgI-Perak Iodida menjadi “Biji es” buatan.
Di Kalteng biasanya pakai NaCl + CaCl2 karena awannya awan hangat, cara kerjanya sederhanan, yakni Mencari awan dilangit, dan awan yang paling dicari adalah awan “Cumulus” (Awan Tebal). Menyusul setelah ditemukan awan tebal Pesawat CN-235 terbang nembus awan sambil nyemprot garam halus. Maka jadilah Hujan Buatan.
Prosesnya, butiran air di awan ketarik sama garam jadi berat dan jatuh jadi hujan. Walhasil TMC itu bukan “menciptakan awan”. Tapi memaksa awan yang udah ada biar cepet hujan.
Itulah, proses membuat “Hujan Buatan“, mudah-mudahan cuaca di Provinsi Kalteng, semakin berubah banyak awan. SEMOGA.(*)











