BIMA – Museum Asi Mbojo Daerah Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan obyek wisata sejarah dan budaya yang dapat dikunjungi di Kota Bima. Museum ini dahulu istana Kerajaan Kesultanan Bima, tetapi pada tahun 1952 mengalami akhir masa kejayaan.
Museum ini menyimpan beberapa koleksi Kesultanan Bima seperti mahkota, perlengkapan perang, perhiasan, alat-alat perang dan perlengkapan makan yang terbuat dari emas. Akan tetapi sebagiannya di simpan oleh keluarga kesultanan.
Sebagai upaya melestarikan budaya Kerajaan Bima tersebut, sebayak 27 siswa dan para Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Mukhlishin Salama Parado, Kabupaten Bima mengunjungi Museum Budaya Kerajaan Bima Asi Mbojo di Kota Bima, Sabtu 28 Agustus 2021.
Kegiatan ini sengaja dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman atau mengedukasi siswa tentang sejarah budaya Kerajaan Bima, apalagi peran generasi sangat penting dalam melestarikan budaya.
“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami dan melestarikan sejarah Kerajaan Kesultanan Bima,” kata Guru Pendamping, Muhammad Anhar, S.Pd.
Sehingga, menurut dia, siswa mampu mengenal alat-alat peperangan yang digunakan pada saat perang, serta mampu mengenal abjad asli Bima dan memahami budaya Bima secara utuh, bahkan dapat mengetahui silsilah Kesultanan Kerajaan Bima.
Sementara itu, Kepala MTs Al-Mukhlisihin Salama Parado, Fahri Ali Suharto, S.Pd., M.Pd., mengungkap, bahwa sebenarnya kegiatan tersebut sudah direncanakan pada tahun lalu, akan tetapi mengingat perkembangan Covid-19 makin meningkat maka kegiatan ditunda, sehingga baru dilaksanakan hari ini.
Menurut Fahri, melalui kegiatan ini siswa dapat memetik pelajaran dan mempelajari informasi yang berkaitan langsung dengan sejarah Kesultanan Bima, karena di museum tersebut terdapat beberapa bukti kehidupan Kerajaan Bima mulai dari zaman kerajaan hingga zaman setelah Indonesia merdeka. Di museum tersebut banyak mengkaji informasi dan ilmu pengetahuan.
“Kita berharap, lewat ekstra kurikuler ini siswa dapat membangkitkan rasa patriotisme yang tertanam dalam individu siswa. Ketika mereka melihat sejarah dan mempelajari bagaimana perlawanan rakyat Indonesia begitu gigih melawan penjajah,” tuturnya saat ditemui di ruangannya.
Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa dengan adanya kegiatan itu, siswa bisa menyaksikan dan melihat secara langsung bentuk dan macam-macam benda yang digunakan pada masa Kerajaan Bima. (Nain/beritasampit.co.id).











