PALANGKA RAYA – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menggelar Rapat Pembentukan dan Evaluasi Jejaring, Skrining Layak Hamil, Antenatal Care (ANC) dan Stunting tingkat Provinsi Kalteng, di Hotel Luwansa Palangka Raya, Selasa 28 Mei 2024.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Kalteng Suyuti Syamsul mengatakan, kegiatan tersebut merupakan rapat kesepakatan terhadap kerja sama untuk memperkuat sistem pelayanan integrasi dan pemenuhan standar Antenatal Care dan Penanggulangan Stunting, dan agenda kegiatan ini pun merupakan salah satu dalam rangka mewujudkan percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), serta stunting di Provinsi Kalteng.
“Dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024 telah dicantumkan sasaran strategi program kesehatan masyarakat yaitu percepatan penurunan AKI menjadi 183/100.000 KH, penurunan AKB menjadi 16/100.000 KH, penurunan Prevalensi Stunting pada Balita menjadi 14 persen serta penurunan prevalensi wasting menjadi 7 persen,” jelas Suyuti Samsul.
Dikatakan Suyuti, AKI dan AKB merupakan masalah kesehatan yang masih belum terselesaikan walaupun AKI dan AKB dalam dekade terakhir mengalami penurunan, tetapi masih tinggi jika dibandingkan dengan negara tetangga di Asia Tenggara.
Lebih lanjut, Suyuti Samsul menjelaskan, sedangkan tingginya masalah gizi balita merupakan manifestasi dari rumitnya permasalahan pangan dan gizi di Indonesia. Salah satu faktor yang menyebabkan masalah gizi balita di Indonesia yaitu konsumsi makanan ibu pada masa kehamilan atau bahkan saat remaja yang tidak sesuai dengan prinsip gizi seimbang.
“Kematian ibu dan bayi di Indonesia di tahun 2022 masih tinggi dan lima provinsi penyumbang 50 persen kematian ibu dan bayi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Selatan, dan dilanjutkan dengan 10 provinsi dengan persentase kematian ibu dan bayi tertinggi yaitu Aceh, Papua, Sulawesi Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Bali, dan Sulawesi Tengah. Sehingga di tahun 2023 semua kabupaten/kota Provinsi Kalteng menjadi fokus percepatan penurunan AKI dan AKB,” ungkapnya.
Suyuti Samsul menambahkan, tren untuk balita stunting secara nasional mengalami penurunan dan Provinsi Kalteng merupakan salah satu dari lima provinsi dengan penurunan 3-8 persen, dimana berdasarkan SSGI tahun 2022 prevalensi stunting sebesar 26,9 persen dan berdasarkan SKI 2023 prevalensi stunting menjadi 23,5 persen.
“Namun begitu, dari 14 kabupaten/kota di Provinsi Kalteng, ada empat Kabupaten/Kota yang mengalami peningkatan prevalensi stunting, seperti Kotawaringin Timur, Sukamara, Katingan, Palangka Raya,” imbuh Suyuti Samsul.
(Sya’ban)











