SAMPIT – Anggota Komisi III DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Sihol Parningotan Lumban Gaol, menyatakan RSUD dr Murjani Sampit kewalahan menangani lonjakan jumlah pasien, akibatnya terjadi antrean panjang.
“Hasil sidak kami berbincang dengan pasien dan menemukan antrean panjang serta keterbatasan tenaga medis di beberapa poli,” kata Gaol, Rabu 30 Oktober 2024.
Pimpinan Dewan bersama Komisi III melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke rumah sakit tersebut beberapa hari lalu, untuk melihat langsung kondisi pelayanannya dan apa kendala yang dihadapi mengapa sering mendapat keluhan masyarakat.
Gaol mengungkapkan, semakin banyaknya pasien yang berobat menyebabkan waktu tunggu pemeriksaan menjadi sangat lama karena tak diimbangi jumlah dokter atau poli yang tersedia.
“Saat sidak, kami menemukan bahwa poli dan dokter yang bertugas tidak seimbang dengan jumlah pasien yang terus meningkat,” ungkapnya.
Di bagian penyakit dalam misalnya, hanya ada empat dokter, dua di antaranya bekerja di poli secara bergantian, tidak cukup waktu hanya ditangani dua orang. Begitu pula di poli anak hanya ada empat.
Akibatnya, antrean pasien pun menumpuk karena keterbatasan waktu yang tersedia untuk melayani mereka. Harus menambah tenaga dokter.
Antrean pasien bahkan dapat berlangsung dari pagi hingga siang, bahkah sore. Mereka pendaftaran mulai dari jam 8 pagi, namun pasien menunggu hingga berjam-jam.
“Ada yang sudah mendaftar pukul 8, namun hingga jam 11 belum juga dilayani,” katanya.
Diketahui bahwa data kunjungan pasien RSUD dr Murjani Sampit sekitar 500 orang per hari, meningkat dari sebelumnnya sekitar 200-300 per hari. Sementara satu poli bisa melayani 30 sampai 50 pasien.
Lebih lanjut, dewan menyoroti pentingnya solusi jangka menengah dan panjang untuk menangani lonjakan pasien di RSUD Murjani.
Salah satu langkah yang diusulkan adalah mencari investor, membuka peluang berdirinta RS swasta di Kotim.
“Penduduk semakin bertambah, dan tanpa rumah sakit tambahan, pasien akan terus kesulitan mendapatkan layanan terbaik,” ungkapnya.
RS swasta nantinya tetap bisa menerima pasien dengan BPJS, sehingga RS ada persaingan sehat untuk memberikan pelayanan terbaik, seperti di Kota Palangka Raya dengan adanya RS Swasta juga melayani BPJS dan ada persaingan yang sehat untuk memberikan pelayanan terbaik.
(nardi)











