SUKAMARA – Penjabat Sekda Sukamara, Yofi Yudistira mengatakan bahwa Kabupaten Sukamara menjadi satu-satunya Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah yang memprogramkan pendampingan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam penanganan stunting.
Hal itu diungkapkan oleh Yofi Yudistira saat publikasi data stunting yang digelar di aula kantor Desa Natai Sedawak Kecamatan Sukamara pada Selasa 3 Desember 2024.
Kegiatan tersebut selaras dengan surat Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor: 400.5.3/3161 Bangda tanggal 13 Mei 2024, perihal pelaksanaan kegiatan intervensi serentak pencegahan stunting di daerah.
Setiap OPD melakukan pendampingan terhadap satu posyandu dimasing-masing desa yang ada di Kabupaten Sukamara selama tahun 2024 dan diharapkan berlanjut di tahun 2025 mendatang
“Kabupaten Sukamara menjadi satu-satunya daerah yang melakukan pendampingan untuk penanganan stunting oleh OPD pada masing-masing desa, sehingga ini akan mempercepat penanganan stunting,” kaga Yofi Yudistira
Kepala Dinas Kesehatan Sukamara Ari Junita mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukamara telah menerbitkan edaran terkait pendampingan yang dilakukan seluruh OPD terhadap pelaksanaan posyandu dalam rangka mengatasi kasus stunting dan permasalahan gizi di Bumi Gawi Barinjam.
Ari Junita mengatakan di Kabupaten Sukamara prevalensi stunting tahun 2023 berdasarkan hasil SSGI sebesar 21,8 persen, sedangkan prevalensi stunting tahun 2023 berdasarkan hasil SKI sebesar 29,1 persen yang artinya meningkat sebanyak 7,3 persen jika dibanding tahun sebelumnya.
“Langkah strategis dalam menangani hal ini adalah meningkatkan kunjungan di Posyandu agar gambaran stunting dan masalah gizi di Kabupaten Sukamara tergambarkan secara keseluruhan,” jelas Ari Junita.
Menurut Ari Junita, melalui kunjungan posyandu tersebut maka kasus stunting dan masalah gizi lainnya pada balita, ibu hamil dan calon pengantin dapat terpantau dan dideteksi dini.
“Langkah nyata ini dilakukan dengan menerbitkan surat edaran tentang pendampingan seluruh OPD dalam pelaksanaan Posyandu dan intervensi masalah gizi pada kelompok sasaran ibu hamil, balita dan catin,” jelasnya.
“Berdasarkan hasil kegiatan tersebut diperoleh data e-PPGBM tahun 2024 intervensi stunting serentak prevalensi sebesar 7,4 persen (Juni) dari jumlah balita 4.338 orang dan bulan September 6,43 persen dari jumlah balita 3.910 orang,” tukas Ari Junita.
(enn)











