PALANGKA RAYA – Program pembagian perangkat internet satelit (Starlink) dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan blank spot atau wilayah yang sulit mendapatkan jaringan internet bagi masyarakat pelosok di Kabupaten Barito Selatan (Barsel).
Anggota Komisi IV DPRD Kalteng, Yetro Midel Yoseph, mengatakan bahwa keterbatasan jumlah perangkat internet masih menjadi kendala di beberapa desa di Kabupaten Barsel. Hal tersebut disampaikannya usai melaksanakan kegiatan reses di sejumlah desa di wilayah tersebut.
Saat ini, penyaluran perangkat internet tersebut lebih diprioritaskan untuk mendukung kebutuhan administrasi di kantor pemerintahan desa, sehingga penggunaannya terbatas bagi masyarakat umum.
“Starlink itu terbatas, Biasanya diutamakan di kantor desa atau BPD, Jadi kalau masyarakat (umum) tidak menjangkau, karena alatnya tidak satu satu,” ujar Yetro, Selasa, 8 September 2026.
Menurutnya, karena perangkat internet tersebut jumlahnya terbatas, pemasangannya pun diarahkan langsung ke fasilitas kantor pemerintahan desa. Kondisi tersebut membuat masyarakat umum belum bisa menikmati akses internet secara mandiri dan langsung.
“Kalau alatnya cuma satu atau dua, Ya dipasang di tempat pemerintah, sekurang-kurangnya di tempat Kades, Sampai Kadesnya bilang ‘ampunku dulu’ (punyaku dulu).” beber Yetro.
Keterbatasan tersebut membuat masyarakat harus mencari akternatif lain untuk mendapatkan akses internet, Salah satu solusi sementara, yaitu dengan memanfaatkan jaringan internet milik perusahaan swasta yang beroperasi di wilayah desa tersebut.
Yetro mengatakan, karena Perusahaan memiliki tower internet sendiri, membuat masyarakat yang berdekatan dengan perusahaan tersebut cukup terbantu dengan adanya akses tower internet dari perusahaan.
“Sebagian desa yang dekat dengan perusahaan itu, Mereka (perusahaan) punya tower sendiri. Lalu masyarakat ikut menumpang sinyal dari bagian situ, Itulah solusinya sementaranya.” Pungkasnya.
(Syauqi)











