KUALA PEMBUANG – Pelanggan Perumda Air Minum Tirta Seruyan (PDAM) di wilayah Kuala Pembuang dan sekitarnya harus menghadapi kondisi air yang berubah dari payau hingga terasa asin. Kondisi tersebut bukan tanpa sebab. Kemarau panjang, intrusi air laut di Sungai Mitak hingga kerusakan instalasi di Tanjung Paring menjadi persoalan yang tengah dihadapi perusahaan daerah tersebut.
Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Perumda Air Minum Tirta Seruyan, Dr. Afiruz Febian, menjelaskan bahwa wilayah pelayanan PDAM ditopang empat sumber air, yakni Sungai Mitak dan Tanjung Paring untuk wilayah Kuala Pembuang dan sekitarnya, Kartika Bakti untuk wilayah Trans Unit I, serta sumber air Sumber Hanau untuk wilayah Kecamatan Hanau dan sekitarnya.
Menurutnya, persoalan paling berat saat ini terjadi pada wilayah pusat pelayanan yang mengandalkan Sungai Mitak dan Tanjung Paring. Memasuki kemarau panjang, Sungai Mitak mulai terdampak intrusi air laut sehingga kadar garam meningkat dan air tidak lagi memungkinkan untuk diolah menjadi air bersih.
“Kalau sudah musim kemarau, permasalahan utama intake Sungai Mitak adalah intrusi air laut, sehingga air itu asin. Kondisinya tidak terjadi di permukaan, tetapi di bagian bawah karena tekanan air laut,” jelas Afiruz, Senin, 21 September 2026.
Kondisi tersebut semakin berat karena kemarau berlangsung lebih panjang dan ekstrem dari perkiraan. Sejak 28 Juli 2026, Sungai Mitak nyaris tidak dapat dioperasikan secara normal sehingga PDAM kemudian mengandalkan intake Tanjung Paring sebagai sumber utama suplai air bagi masyarakat.
Berbeda dengan Sungai Mitak, Tanjung Paring sejauh ini tidak terdampak intrusi air laut. Namun, sumber air tersebut memiliki persoalan lain. Operasionalnya sangat bergantung pada genset karena belum tersedia jaringan listrik PLN. Bahkan, sejak 28 Juli, genset Tanjung Paring harus bekerja hingga sedikitnya 18 jam per hari, sehingga kebutuhan BBM meningkat signifikan.
Masalah kembali muncul ketika panel Tanjung Paring mengalami kerusakan total pada 19 September 2026. Meskipun genset masih dapat menyala, energi listrik tidak dapat diteruskan melalui panel menuju pompa sehingga proses pengambilan dan distribusi air terhenti.
“Teknisi dari Sampit sudah kami datangkan. Setelah dilakukan pengecekan dan upaya kanibal komponen, ternyata ada alat yang harus diganti dan barangnya tidak tersedia di Kuala Pembuang. Alhamdulillah, hari ini alat tersebut sudah tiba bersama teknisinya dan langsung dibawa ke Tanjung Paring,” ungkapnya.
Afiruz berharap proses perbaikan dapat segera rampung sehingga operasional Tanjung Paring kembali berjalan dan distribusi air kepada masyarakat berangsur normal. Namun, selama proses perbaikan berlangsung, PDAM terpaksa kembali memanfaatkan Sungai Mitak pada kondisi tertentu, meski kualitas airnya sudah mengalami peningkatan kadar asin.
Ia menegaskan bahwa air dengan kadar garam tinggi tidak serta-merta dapat diolah menjadi air layak distribusi. Semakin tinggi tingkat keasinannya, semakin sulit air tersebut diproses. Karena itu, ketika kualitas air baku sudah tidak memungkinkan untuk diolah, produksi harus dihentikan sementara.
“Kami mohon maaf kepada seluruh pelanggan karena belum bisa memberikan pelayanan dengan baik. Dengan sangat terpaksa, air yang teralirkan ke pelanggan saat ini ada yang berada pada kondisi payau menuju asin, bahkan ada yang sudah terasa asin,” katanya.
Di tengah persoalan tersebut, Perumda Tirta Seruyan mulai menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap genset. Salah satunya dengan menjajaki penggunaan panel surya untuk mendukung operasional intake Tanjung Paring.
Perumda telah berkoordinasi dengan perusahaan penyedia panel surya di Jakarta. Data mengenai kapasitas, kebutuhan energi, dan kondisi Tanjung Paring telah disampaikan untuk menjadi dasar penyusunan proposal investasi. Saat ini pihak perusahaan masih menunggu penawaran bisnis dan nilai investasi yang dibutuhkan.
Selain persoalan sumber energi, akses menuju Tanjung Paring juga berkaitan dengan status kawasan. Jalur mulai dari Simpang Makmur hingga Simpang Tiga PDAM sepanjang sekitar tiga kilometer masih memiliki persoalan status kawasan. Perumda bersama pemerintah daerah tengah menyiapkan dokumen untuk proses perubahan status kawasan, baik melalui skema pinjam pakai maupun perubahan fungsi kawasan.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya mempermudah pembangunan jaringan listrik, tetapi juga membuka peluang peningkatan akses jalan menuju lokasi intake. Dengan akses yang lebih baik, perawatan dan pengembangan fasilitas pengolahan air di Tanjung Paring juga diharapkan menjadi lebih mudah.
Afiruz mengakui bahwa persoalan Tanjung Paring tidak terlepas dari usia peralatan. Instalasi tersebut telah digunakan sejak 2014 dan belum mendapatkan perawatan serta peremajaan secara menyeluruh. Sejak Desember tahun lalu, pihaknya mulai melakukan perbaikan terhadap pompa, genset, dan panel agar tetap layak digunakan.
Namun, setelah bekerja tanpa henti sejak akhir Juli, kondisi peralatan yang telah berusia lebih dari satu dekade kembali menunjukkan keterbatasannya.
“Usia alat memang tidak bisa dibohongi. Karena itu, kami sudah bersiap melakukan perbaikan dan peremajaan. Kondisi yang terjadi sekarang menjadi bagian dari tantangan pelayanan kami,” ujarnya.
Afiruz berharap perbaikan Tanjung Paring segera selesai sehingga distribusi air kepada pelanggan dapat kembali normal. Dalam jangka panjang, pihaknya juga mendorong dukungan pemerintah daerah untuk memastikan tersedianya sumber energi, akses kawasan, serta peremajaan infrastruktur agar persoalan serupa tidak terus berulang.
(ASY)











