Menatap Pilgub Kalteng 2029: Mengukur Kekuatan dan Terjalnya Jalan Nurhidayah Menguasai Panggung Borneo

Gambar Ilustrasi oleh Tim Kreatif Berita Sampit.

Oleh: Tim Redaksi.

PETA POLITIK menuju Pemilihan Gubernur Kalimantan Tengah (Pilgub Kalteng) 2029 mulai menunjukkan dinamika yang menarik dan penuh strategi tingkat tinggi. Salah satu figur yang paling disorot dan diprediksi menjadi penantang paling serius adalah Nurhidayah.

Mengusung kekuatan basis pemilih wilayah barat serta sokongan logistik yang kuat, Bupati Kotawaringin Barat dua periode ini digadang-gadang siap mengguncang arena perebutan kursi nomor satu di Kalteng.

Rekam Jejak dan Lumbung Suara Pesisir

Sebagai Bupati perempuan pertama di Kalteng yang menjabat dua periode (2017–2022 dan 2025–2030), Nurhidayah memiliki modal elektoral yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada Pilbup 2024 lalu, ia sukses meraih kemenangan telak dengan meraup 75.318 suara atau setara dengan 52,2 persen.

Pengalaman politiknya semakin matang berkat rekam jejak tiga periode di DPRD (2004–2016), yang memberinya pemahaman mendalam tentang strategi pemenangan dari level akar rumput.

Secara geografis, Kotawaringin Barat (Kobar) merupakan Daftar Pemilih Tetap (DPT) terbesar ketiga di Kalteng dengan sekitar 170 ribu pemilih. Jika dikombinasikan dengan wilayah tetangga seperti Lamandau, Sukamara, dan Seruyan yang memiliki kedekatan kultur Melayu pesisir, Nurhidayah memiliki potensi besar untuk mengunci hingga 400 ribu suara di wilayah barat.

Sokongan Klan Rasyid dan Ujian Soliditas Internal

Kekuatan elektoral Nurhidayah juga ditopang oleh sokongan penuh mesin logistik dari H. Abdul Rasyid (CBI Group) serta jejaring keluarga tokoh berpengaruh.

Peluangnya untuk menumbangkan petahana akan semakin terbuka lebar apabila kubu politik wilayah barat seperti para loyalis H. Abdul Razak, Farid Naparin, dan H. Hamdani mampu merapatkan barisan dan bersatu memberikan dukungan penuh.

Namun, jalan Nurhidayah menuju kursi gubernur dipastikan tidak akan berjalan mulus. Tantangan terbesar justru datang dari internal Partai Golkar Kalteng yang diprediksi terbelah menjadi empat faksi kuat.

baca juga ...  Bupati Gembira Hasil Panen 3.29 Ton Padi Merah Diberi Nama Nurhidayah

Perebutan tiket dari partai berlambang pohon beringin ini akan berlangsung sangat alot karena melibatkan Faksi Mukhtarudin (DPR RI), Faksi Edy Pratowo (Wakil Gubernur), Faksi Farid Naparin (Walikota Palangka Raya), hingga Faksi Nurhidayah atau Klan Rasyid sendiri.

Pertarungan Kelas Berat Melawan Para Raksasa Politik

Jika berhasil mengamankan tiket partai serta menyatukan soliditas di wilayah barat, Nurhidayah tetap harus bersiap menghadapi pertarungan kelas berat di arena Pilgub 2029. Panggung tersebut telah dinantikan oleh para raksasa politik lainnya, seperti:

1. Agustiar Sabran: Gubernur petahana (2025–2030) yang didukung mesin politik PDI Perjuangan serta solidnya suara masyarakat adat Dayak.

2. Muhammad Syauqie: Tokoh dengan perolehan suara terbanyak untuk DPR RI (mencapai 106 ribu suara).

3. Fairid Naparin: Walikota Palangka Raya dua periode yang menguasai basis birokrasi ibu kota.

4. Kekuatan Senayan Lainnya: Tokoh-tokoh kuat dari DPR RI seperti Mukhtarudin hingga Andina Thresia Narang.

Kesimpulan

Pilgub Kalteng 2029 bukan lagi arena pertarungan “kaleng-kaleng”. Dengan modal 400 ribu suara potensial dari pesisir barat serta sokongan logistik raksasa, Nurhidayah memiliki amunisi yang memadai untuk menjadi penantang utama.

Kendati demikian, kunci utama keberhasilannya sangat ditentukan oleh kemampuannya meredam friksi internal Partai Golkar dan membangun koalisi strategis guna menaklukkan dominasi petahana serta kekuatan politik lokal lainnya.(***)

Bagikan:
Berita Populer