REFLEKSI HARI IBU

Oleh: Dr. H.Joni, SH., MH.***

Hari Ibu, diperingati setiap tanggal 22 Desember. Sekadar mengingatkan bahwa dalam kehidupan kita ada sosok yang begitu besar perannya. Ia adalah Ibu.

Ibu yang melahirkan dan membesarkan setiap anak manusia. ibu yang senantiasa penuh harap untuk kebaikan dan kesuksesan anak, buah hatinya. Peringatan hari Ibu bisa saja dipandang sebagai semacam peringatan yang bersifat formalistik.

Namun di balik itu senantias muncul kesadaran bahwa di tengah rutinitas dan berjuta masalah yang sedang kita hadapi, diperlukan sejenak menoleh pada sosok yanhg sangat penting dimaksud, yaitu Ibu.

Disadari bahwa secara substansial di dalam memperingati Hari ibu ini bukan sekadar memperingati sosok yang melahirkan kita. sosok yang terhormat dan harus dihormati, baik secara biologis, secara kultural maupun agamis.

Penghormatan ini mengandung muatan substansial yang ditujukan kepada sosok Ibu. Ini merupakan kewajiban yang secara etis harus dilakukan oleh siapa saja yang secara alamiah sadar bahwa dirinya tak akan pernah nongol di dunia dengan segala perniknya ini, tanpa ada seorang Ibu.

Untuk itu, peringatan Hari Ibu merefleksikan etos penghormatan dan penghargaan kepada Ibu. Secara manusiawi mengandung makna untuk meningkatkan kecintaan serta kebaktian kepada Ibu, di tengah rutinitas kehidupan yang tak ada ujungnya ini.

Makna Ibu dan Keibuan

Begitu mendasarnya filosofi seorang Ibu. Hingga dalam keseharian banyak diletakkan kepada sosok Ibu. Ada Ibu pertiwi, ada Ibu Kota, Ibu jari, dan seterusnya. Kesemuanya menggambarkan posisi penting yang tak tergantikan dari seorang Ibu.

Membuka Kamus Umum Bahasa Indonedia (KUBI), memberikan pemahaman tentang arti Ibu. Ibu artinya wanita yang telah melahirkan seseorang. Atau bisa juga sebagai sebutan untuk wanita yang sudah bersuami.

baca juga ...  Umi Mastikah Antar 30 Kader Partai Demokrat Daftar ke KPU, Optimis Menang Pemilu 2024

Bisa juga sebagai panggilan yang takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun yang belum. Dapat pula diartikan sebagai bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya). Misalnya ibu jari.

Dapat pula diartikan sebagai yang utama di antara beberapa hal lain yang mempunyai nilai penting. Misalnya ibu kota, ibu pertiwi dan sebagainya. Tidak ada preferensi negatif dalam hubungan antara Ibu.

Pemahaman ini senantiasa merujuk kepada cermin kebutuhan manusiawi. Mencerminkan proteksi dan kasih sayang tanpa batas. Kasih sayang yang seringkali justru dibalas dengan tidak semestinya oleh anak, sebagai sosok yang dilahirkan oleh seorang Ibu.

Pengorbanan paling besar adalah dari seorang Ibu utuk kebaikan dan keberhasilan anaknya dalam kehidupan. Memperingati Hari Ibu adalah cermin penghormatan terhadap Ibu secara kultural.

Dalam perspektif ini, peringatan Hari Ibu di setiap tanggal 22 Desember mengingatkan perjalanan masa lalu tepatnya pada tanggal 22 s/d 25 Desember 1928.

Saat itu, di Yogyakarta, para pejuang wanita khususnya yang berasal dari tanah Jawa dan Sumatera berkumpul untuk mengadakan perhelatan, dengan tajuk Kongres Perempuan Indonesia Pertama (ke I).

Pada kongres dimaksud, tercatat berbagai problema yang berkisar pada peran wanita dalam kehidupan rumah tangga dan peran dalam ketatanegaraan dibahas.

Inti bahasannya adalah pada dimensi Ibu dan perspektif keibuan, tentang peran yang secara konkret dapat dibaktikan bagi kemanusiaan dan kualitas kehidupan keluarga dan selanjutnya bagi masyarakat yang lebih baik. Saat itu, diantaranya dibahas mengenai persatuan perempuan Nusantara.

Bagaimana peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan; peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan beberapa agenda lainnya.

baca juga ...  Benarkah PJU Di Jalan Pramuka Akan Segera Dipasang?

Intinya berkonsentrasi terhadap peningkatan pean Ibu yang tidak saja secara alamiah namun juga secara konseptual baik pada saat itu maupun masa yang akan datang.

Dari latar belakang itu semuanya adalah dengan merujuk pada perjalanan sejarah jauh sebelumnya. Ada kekuatan moralitas yang sangat besar dan menjadi penyemangat dari tokoh perempuan masa lalu.

Mereka itu semuanya adalah Ibu yang secara biologis melahirkan anak dan secara kultural mendarmabhaktikan kehidupannya untuk kemaslahatan keluarga dan sosial.
Peran konkret yang tercatat dalam sejarah misalnya di era tahun 1912an sudah ada organisasi perempuan.

Pejuang-pejuang perempuan pada abad ke 19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Meutih, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Para pahlawati itu secara tidak langsung telah merintis organisasi perempuan melalui gerakan perjuangan untuk meningkatkan kualitas hidup warga bangsanya. Kesemuanya itu memberikan makna terjadinya perjuangan gigih bagi masyarakatnya.

Mereka semua itu, khususnya yang tercatat dalam sejarah telah mendarmabaktikan kehidupannya. Mereka merupakan bukti konkret betapa besar perjuangan yang telah dijalani, dan memastikan begitu besar pengaruh para Ibu itu dalam kiprah keperempuan-an dan perjuangan demi bangsanya.

Pada pemaknaan formal ad ministratif, sebagai bentuk monumental terhadap peran para wanita itu, tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu. Penetapan ini secara normatif administratif dilakukan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Di dalam dekrit dimaksud Presiden Soekarno menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini. Hal ini merupakan apresiasi Negara atas kiprah kaum perempuan yang direfleksikan dengan peringatan Hari Ibu.

baca juga ...  ​Banmus Bahas Revisi Jadwal Hari Ini, Eh Malah Tertunda Karena Ada Sosilisasi Amnesti Pajak Mendadak

Dengan peringatan Hari Ibu maksudnya adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan. Khususnya di dalam upaya perbaikan kualitas bangsa, dengan nafas ke-perempuan-an, dengan batasan bahwa para kaum perempuan tidak meninggalkan ranah domestik sebagai semacam habitat dan eksistensi ke-perempuan-annya ini.

Misi itulah yang tercermin menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama membangun dan meningkatkan peran diri, baik pada ranah kebangsaan maupun ranah domestik, mulai masa lalu, saat ini dan dipertahankan hingga masa mendatang.

Dalam memahami peran seorang Ibu, disadari betapa perjuangan seorang Ibu itu teramat berat. Mari disimak, bahwa peran sorang Ibu itu pada dasarnya identik dengan pekerjaan atau profesi yang sulit, bahkan sangat sulit.

Peran, yang secara konkret terwujud dalam pekerjaan seorang Ibu, merupakan pekerjaan penuh waktu. Bekerjanya tiada henti itu dimulai dari ketika anak bangun tidur sampai anak itu tertidur lagi, bahkan ketika anak tertidur pun tugas seorang ibu belum selesai.

Ia harus mengurus rumah dan segala sesuatu yang diperlukan oleh laki-laki sebagai seorang suami. Sekali lagi, pekerjaan itu dilakukan terus menerus selama bertahun tahun, sampai anak itu mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu secara mandiri.

Untuk itu semua, sekadar sehari mengenangnya, merupakan kewajiban bagi kita semuanya. Inilah perspektif dari Hari Ibu. Kita ucapkan, selamat Hari Ibu yang ditujukan kepada Ibu terkasih, yang kasihnya tak terukur.

(Notaris, Pengamat Sosial, dan Hukum, Pengurus Muhammadiyah Kota Sampit)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!