JAKARTA- Akademisi Universitas Paramadina Herdi Sahrasad menanggapi tiga kartu sakti cawapres nomor urut 01 yang ditawarkan langsung oleh KH Ma’aruf Amin dalam debat ketiga pada 17 Maret 2019 lalu.
Menurut Herdi, ketiga kartu sakti yakni Kartu Sembako Murah (KSM), Kartu Kuliah dan Kartu Pra-Kerja itu akan menjadi problem dikemudian hari, karena kartu-katu tersebut belum teruji efektivitasnya.
“Saya khawatir kartu-kartu itu merangsang rakyat untuk main kartu, karena kartu itu hanya sebagai formalitas, bukan secara substantif,” ujar Herdi, dalam diskusi ‘Paradoks Kartu Sakti Jokowi’ di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa, (19/3/2019).
Herdi bilang, visi misi Wapres KH Ma’aruf yang diklaim menyatu dengan visi misi Jokowi-JK pada periode 2014 lalu itu akan berdampak negatif pada masyarakat umum. Pasalnya kepemimpinan Jokowi masih belum memenuhi janjinya untuk memberikan harapan bagi rakyat Indonesia.
Bahkan, lanjut Herdi, kedaulatan pangan yang menjadi satu dari sembilan program prioritas presiden Jokowi yang tertuang dalam Nawacita tersebut, jauh panggang dari api. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 Impor beras tembus 844 ribu ton.
“Nawacita yang selama ini digembor-gemborkan Jokowi merubah menjadi Nawaduka, karena banyaknya, impor pangan dan impor lainnya membuat daya beli masyarakat makin terpuruk,” cetus Herdi.
Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters Indonesia, Adhie Massardi menilai visi-misi cawapres Ma’aruf Amin yang selaras dengan calon presiden petahana itu akan terbebani oleh janji-janji masa lalu Jokowi di tahun 2014 yang masih banyak belum direalisasi.
Kata Adhie, debat cawapres menjadi perhatian serius ‘Swing Voters’ atau pemilih yang belum menentukan pilihannya pada pemilu serentak 17 April mendatang. Karena, sejak era reformasi, wapres merupakan peran penting dalam mengatasi persoalan bangsa.
“Debat wapres itulah menjadi posisi penting yang akan dipilih Swing Voters,” ungkapnya.
Adhie Massardi yang juga mantan juru bicara presiden KH Abdulrahman Wahid (Gus Dur) itu membeberkan bahwa kelemahan kartu sakti Jokowi-Ma’ruf itu dikarenakan jumlah penduduk Indonesia cukup besar, tidak seperti Negara Brunai dan Singapura yang penduduknya sedikit.
“Saya pastikan rakyat kita akan bodoh, kalau diberi kartu-kartu itu. Padahal kelangsungan menjadi negara bangsa adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, kalau tiga kartu itu ditawarkan oleh cawapres Ma’aruf memang tidak akan efektif,” pungkas Adhie Massardi.
(dis/beritasampit.co.id)












