SAMPIT – Dugaan kesalahan diagnosa medis di RSUD dr Murjani Sampit kembali menuai sorotan. Sekretaris Komisi III DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Langkap, menyesalkan adanya kejadian di mana seorang pasien dengan penyakit jantung justru didiagnosa menderita malaria. Akibatnya, pasien tersebut terpaksa menggunakan biaya pribadi untuk berobat ke luar daerah demi mendapatkan penanganan yang lebih tepat.
“Seorang pasien sering bolak-balik ke RS Murjani katanya sakit dokter itu sakit malaria, namun sering kambuh dan bolak balik lagi juga jawabannya malaria,” kata Langkap, Kamis 13 Maret 2025.
Politisi Gerindra ini menjelaskan karena sering kambuh maka terpaksa dengan biaya sendiri pasien dibawa ke Palangka Raya dan disana juga belum diketahui penyakitnya. Kemudian di bawa ke RS Sari Mulia Banjarmasin dan akhirnya disana didiagnosa ada daging di katup jantung dan dirujuk ke RS Harapan Kita untuk dilakukan operasi jantung.
“Ini yang menjadi pertanyaan, di RS Murjani apakah karena alat yang kurang memadai atau tenaga medis yang kurang kompeten?” ujar Langkap.
Setelah menjalani operasi akhirnya si pasien tidak pernah masuk rumah sakit lagi, namun sekarang tidak bekerja karena sering sakit dan keluar dari pekerjaannya di Bank Kalteng.
Menurut Langkap, kasus-kasus ini menunjukkan adanya kelemahan dalam diagnosa di RS Murjani. Ia mempertanyakan apakah keterbatasan terjadi akibat kurangnya alat atau karena tenaga medis yang kurang kompeten.
“Kasus seperti ini harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai pasien menjadi korban akibat diagnosa yang keliru,” ujarnya.
Langkap menegaskan apakah hal itu gara-gara RS Murjani sebagai satu-satunya rumah sakit rujukan di Kotim. Masyarakat berhak mendapatkan layanan kesehatan yang optimal dan penegakan diagnosa yang tepat.
“Kami mendukung RS Murjani untuk berbenah. Kompetensi tenaga medis harus dievaluasi agar tidak terjadi kesalahan diagnosa yang berulang. Ini menyangkut keselamatan pasien dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan,” tegasnya.
Dirinya melihat ini akibat kegagalan dalam mendeteksi penyakit. Pasien yang awalnya dianggap tidak perlu perawatan justru harus menjalani operasi di rumah sakit lain dengan biaya sendiri, ini harus diperbaiki. Tenaga medis di RS Murjani harus lebih teliti dalam melakukan diagnosa agar masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang terbaik.
Menanggapi keluhan terkait diagnosa medis Direktur RSUD dr Murjani, Yulia Nofiany, menegaskan bahwa para dokter di rumah sakit tersebut pastinya kompeten.
Namun, ia mengakui bahwa beberapa di antaranya masih tergolong fresh graduate dengan pengalaman kerja di bawah dua tahun, sehingga memerlukan lebih banyak jam terbang.
“Kami memastikan bahwa dokter yang bertugas di RS Murjani memiliki kompetensi sesuai standar. Namun, memang ada beberapa dokter yang masih fresh graduate dan membutuhkan lebih banyak pengalaman jam terbang,” ujar Yulia.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pasien dan keluarganya. Pihak RS Murjani terus berbenah dan meningkatkan kualitas pelayanan dengan mengadakan pelatihan serta coaching klinik secara rutin bagi dokter dan tenaga kesehatan.
“Kami selalu berupaya meningkatkan mutu layanan dengan mengadakan pelatihan dan coaching klinik secara rutin bagi tenaga medis,” tambahnya.
(Nardi)












